Mendadak Mekanik

Hari ini mestinya Nadya bisa santai berakhir pekan dengan menonton ulang maraton serial Marvel favoritnya, sampai titah Ibunda muncul untuk membawa mobil mereka ke bengkel. Nadya terpaksa menyeret kakinya, ketimbang sang Ibunda merepet di pagi hari. Bengkel langganan keluarga mereka sebenarnya tidak terlalu jauh, Nadya bisa saja menaruh mobilnya untuk kemudian naik ojek daring kembali ke rumah. Setelah memarkir mobilnya, Nadya berjalan menuju seorang mekanik yang sedang memperhatikan dia—atau mobilnya.

“Mas, kemarin ibu saya sudah reservasi atas nama Nadya. Mestinya Mas Danu udah paham sih.” Nadya mengulurkan kunci mobil pada mekanik tersebut.

Mau tidak mau Surya menerima kunci mobil yang diserahkan oleh gadis berambut ikal sebahu di hadapannya. Kehadirannya dengan mobil BMW E60 tadi sudah cukup menarik perhatiannya. “Oh iya, Mbak Nadya ya tadi? ada keluhan khusus gak ya?”

“Hmm..kata Ibu saya sih suka ada bunyi-bunyi di roda kiri belakang. Tapi ini benernya yang sering pake Ibu saya sih, Mas. Tadi pas saya bawa jalan sih gak kedengeran apa-apa.” Surya bergerak mengelilingi mobil berwarna silver tersebut.

“Masih bagus ya, Mbak. Jarang dipake ya?”

“Jarang sih, Mas. Paling kota-kota aja itupun gak jauh, mobil tua juga boros kalo dibawa kejauhan.”

“Tapi ini masih oke banget kok eksteriornya, Mbak. Eh iya tadi roda kiri ya? Nanti saya bantu cek deh, Mbak. Boleh nunggu di dalem aja, Mbak, yang adem, itu sama ada teh botol di cool case.” Surya mempersilakan, penampilannya hari ini memang mirip mekanik apalagi dengan overall warna cokelat dan kaos hitam. Dia terlihat seperti Bob The Builder. Surya jadi tertawa kecil.

Nadya hampir beranjak, kemudian bertanya, “Kira-kira berapa lama ya, Mas?”

Surya tertegun, di sabtu pagi pasti si gadis sudah ada janji lain setelah ini, “Satu jam sih, Mbak. Paling cepet.”

“Oh oke, Mas. Makasih.” Kruuuuk…suara gerakan ususnya cukup keras terdengar, karena malu Nadya segera masuk ke ruang tunggu.

Nadya meletakkan kindle, dompet, serta perintilan lainnya di samping tempat duduknya. Satu tangannya sibuk menyusuri aplikasi ojek daring untuk memesan makanan. Tadi selesai ia lari pagi, sang Ibu sudah menyiapkan kunci mobil, pertanda ia harus segera beranjak ke bengkel. Padahal perutnya kelaparan minta diisi.

“Mbak Nadya, mau sandwich gak?” Mekanik yang tadi tiba-tiba masuk membawa Subway beserta minumnya. “Tadi saya beli kebanyakan, terus tadi gak sengaja denger Mbaknya laper.”

Wajah Nadya memerah, Mas Danu dapet mekanik kaya gini di mana deh, udah cakep, perhatian lagi. “Makasih ya, Mas. Iya nih belum sempet sarapan.”

“No worries, Mbak. Saya usahain cepet aja mobilnya.” Surya keluar dari ruang tunggu sambil tersenyum, ada gunanya juga Danu menolak sandwich-nya tadi pagi. 

*

“Njir, lo ngemodusin customer gue ya? Segala sandwich lo kasihin. Padahal tadi gue kan nolaknya basa-basi, Sur.” Danu merepet.

“Yaaaah lo kan tadi bilang udah sarapan di rumah, ya gue kasihin aja. Kasian laper banget kayanya dia.” Surya ternyata tetap memperhatikan Nadya yang sedang melahap sandwich-nya dengan cepat.

“Eh mobilnya gue yang kerjain ya?”

“Gila lu, kalo tambah rusak gimana? Tunggu bentar lagi, itu Budi habis ngeberesin mobil lo lanjut ngerjain punya Nadya. Lu belum lolos probation ya. Tapi boleh deh kalo ganti oli, tapi lo cek dulu kilometer-nya soalnya seinget gue belum waktunya sih,” ujar Danu, yang cukup ingat mobil tersebut sudah sering keluar masuk bengkelnya. “mobilnya agak rumit soalnya.”

“Yaaah oke deh. Atau Budi suruh garap mobil Nadya dulu gak papa deh, Nu. Gue oprek-oprek sendiri mobil gue.”

Danu mengendikkan bahu, “Up to you, man.”

Danu kadang heran dengan kelakuan sahabatnya ini, Surya Hadisukmana jelas punya segalanya. Apalagi dengan title Sukmana di belakang namanya. Tapi sahabatnya ini pulalah yang paling iri (dengan arti positif) terhadap dirinya yang merintis usaha bengkel kecil-kecilan untuk menopang perekonomian keluarga.

“Ini semua tuh usaha lo sendiri, Nu. Kalo gue tanpa Sukmana juga gue bukan siapa-siapa.” selalu begitu kata-katanya jika nama keluarganya tersebut.

Namun di mata Danu, Surya pulalah orang yang paling gigih berusaha dalam apapun, mulai dari belajar bermain gitar hanya 3 bulan untuk kemudian tampil bersama saudaranya di festival SMA (yang ternyata juga menuruti permintaan Brian yang gebetannya waktu itu pengen lihat mereka nge-band) juga mengejar studi sampai S2, serta jabatan di kantornya pun tak serta merta karena ia adalah Sukmana. Sama seperti saat ini, kecintaan Surya terhadap otomotif membuatnya ingin belajar lebih banyak tentang mengoprek mobil, yang membuat Danu kadang kelimpungan jika sahabatnya ini tiba-tiba datang dengan segudang pertanyaan.

*

Ponsel Nadya berdering dan menunjukkan nama Dina di layarnya, masih belum pukul 9 di hari Sabtu, sebuah hal yang tidak biasa. “Ape, nyet?”

“Lo di mana?”

“Bengkel.” jawab Nadya masih sambil mengunyah sandwich.

“Ngapain?”

“Kayang sambil koprol.” suara di seberang tertawa membahana mendengar jawaban Nadya.

“Masih lama gak?”

“Katanya cuman sejam sih, ini baru 15 menit.”

“Lo gak balik rumah?”

“Engga, males sekalian nunggu aja. Lagian ini tadi dapet sarapan juga.”

“Lo di bengkel Mas Danu kan? Mas Danu yang ngasih?”

“Kagak, mekaniknya.” jawab Nadya singkat.

“Hah? pindah face time video sekarang, Nadya!” tiba-tiba panggilan suara tersebut beralih ke panggilan video.

“Apa sih lu? Tiba-tiba jadi video call?”

“Lo gembel gini dari tadi?”

Nadya merengut menyadari bahwa kurang lebih dia memang bisa dibilang gembel, rambut lepek akibat keringat setelah berlari, juga kaos yang ikut kusut. “Makasih loh udah diingetin.”

“Ganti kamera belakang lo dong, mana tadi mekanik yang ngasih lo sarapan? Baik bener. Cakeb gak?”

Nadya memutar kameranya, “Surprisingly cakeb sih emang, gondrong tapi enak diliat gitu, mana lucu lagi pake iket rambut gambar rubah gitu.”

Dila mencoba melihat siluet orang yang dimaksud dari layarnya, “Nad, kok kayanya gue familiar ya sama ni cowok?”

“Ketemu pas Bara service mobil kali.” Nadya menyebut nama kekasih Dina, yang kebetulan juga pelanggan bengkel Mas Danu. Nadya memutar kembali letak kamera.

“Mana ada? Gue gak pernah ikut juga sih kalo Bara ke bengkel, tapi tau ada yang cakep mestinya gue ikutan sih.”

“Jelalatan ya lo.”

“Nanti jalan dong, darling.” 

“Males, gue mau rebahan.”

“Ya rebahan di spa deh. Bosen nih, Bara lagi driving sama bokapnya. Kayanya seharian deh. Paling baru bisa ketemu ntar malem.”

“Dih kalo bosen aja baru ke gue, emang jadi ban serep doang gue tuh.”

“Lu pacaran dong makanya, Nad. Ntar kan bisa double date.”

Nadya memutar matanya, “Udah ah. Lo mandi dulu sana. Ntar gue kabarin kalo udah beres.”

“Okay, darling. See you.” Dila melempar cium jauh, sementara Nadya segera mengakhiri sambungan telpon.

Pacaran? Emang hidup harus pacaran biar seseru itu?

*

Nadya masih membaca dari Kindle ketika Surya mengetuk pintu kaca ruang tunggu dengan pelan karena takut mengganggu. “Eh udah beres ya, Mas?”

“Udah, Mbak. Tadi sudah dicek juga kaki-kakinya, sama ban tadi sekalian spooring.” Surya menjelaskan, tapi matanya sambil melirik Kindle yang dipegang Nadya. “Suka baca apa, Mbak?”

“Oh–apa aja sih, Mas. Fiksi, non fiksi saya baca semua.” Nadya sedikit bingung ketika si mekanik ganteng ini tiba-tiba bertanya tentang kegemarannya membaca.

“Eh maaf, Mbak. Gak maksud apa-apa. Saya juga hobi baca soalnya.” Surya meminta maaf, takut dianggap tidak sopan. “Pembayarannya bisa di kasir ya, Mbak. Saya permisi.”

“Makasih ya, Mas.”

*

Nadya menyerahkan kartu debitnya kepada kasir, sambil bertanya pelan, “Mbak, Mas yang pake overall di depan itu siapa sih?”

Si kasir melongok dan melihat sahabat si bos sedang sibuk mengobrol dengan bosnya, “Oh Mas Surya.”

“Oh namanya Surya.” Nadya berkata sendiri, sambil menyimpan memori tersebut di otaknya, mungkin lain kali ia bisa menawarkan diri ke Ibunya untuk membawa mobil ke bengkel tanpa disuruh.

“Tapi Mas Surya bu–” belum sempat si kasir melanjutkan perkataannya, Nadya disibukkan dengan telepon dari sang Ibu.

“Oke, Bu. Ini baru beres. Iya, nanti aku beliin, ada lain gak? Makasih ya, mbak.” Nadya bergegas mengambil kartu debit serta kunci mobilnya. 

Seusai berteriak terima kasih juga pada Mas Danu dan Surya dari kejauhan, Nadya melajukan mobilnya. Sempat berhenti sebentar di minimarket membeli titipan belanja sang Ibu. Kali ini sebuah pesan masuk ke ponselnya.

“Gue inget sekarang siapa cowok tadi!” 

Dina melampirkan sebuah cover majalah Tatler edisi 2 bulan lalu, dengan wajah sang mekanik yang baru saja ia temui serta tulisan “The New Era, Surya Hadisukmana” mengenakan setelan jas hitam sambil menatap kamera tanpa senyum. Sungguh berbeda dengan mas mekanik yang ramah dan murah senyum tadi.

Nadya hampir menyemburkan air yang baru saja ia minum, karena pesan lain masuk ke ponselnya.

“Mbak Nadya, ini Surya. Tadi Kindle-nya ketinggalan di bengkel. Mau saya antar ke mana?”

Memang hidup boleh sebecanda ini?

Mendadak Pacar

“Bocah gila.” Wildan mengumpat ketika membaca pesan dari Dion. Ia ingin menelpon tapi hari ini sudah cukup kelelahan dan tidak punya tenaga lagi untuk sekedar mengomeli adiknya. 

Brian mengetuk ruangan Wildan dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban, “Bareng dong, Dan. Lo bawa mobil kan?”

“Loh kirain lo udah pulang, Bri. Katanya habis makan di luar mau langsung balik.” Wildan menutup laptop dan memasukkannya ke ransel, mengambil kunci mobil di laci kemudian beranjak mendekati Brian.

“Tadinya gitu, terus ada yang kelupaan di kantor jadinya balik deh.”

“Ada yang nyari gara-gara nih.” Wildan menyodorkan ponselnya. Brian seketika terbahak membaca pesan dari si bungsu. 

“Kualat lu sama Dion, udah janji pake lupa. Eh bentar kayanya gue tau deh siapa tetangganya. Tapi kok gue siapa ya.”

“Anak kantor?” tebak Wildan. “Jangan-jangan gebetan lo ya, Bri?”

Brian berusaha mengingat tapi otaknya tidak bisa diajak bekerja sama, “Ntar deh kalo inget.”

Pintu lift terbuka dan Surya ada di dalamnya, “Lah kok jadi pada di kantor semua?”

“Bang, lu aja yang nyetir ya.” Wildan melempar kunci mobil dan Surya dengan sigap menangkapnya. “Mobil lo titipin Pak Samsul aja, tadinya gue juga mau naik taksi ternyata Brian minta bareng.”

Surya memasukkan kunci mobil Wildan ke sakunya, “Lo besok jadi outing?” 

“Pengennya sih bail out ya,” Wildan menyenderkan tubuhnya ke dinding lift, rasanya ingin segera merebahkan badan di kasurnya.

“Waaah lu ngomong bail out dilaporin Brian ke bokapnya loh.”

“Loh emang Oom Edo besok dateng, Mas?”

Brian mengendikkan bahu, “Tapi kayanya dateng buat buka acaranya sih.”

Selama ini walaupun sekantor Brian juga tidak mengetahui pasti jadwal ayahnya. Bertindak sebagai CEO Edward Tedjasukmana tentu punya kesibukan tersendiri, namun beliau pasti menyempatkan diri untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya. Brian si anak tunggal ini tidak pernah  melewatkan makan bersama kedua orang tuanya di akhir pekan entah itu brunch, lunch atau dinner. Sesibuk apapun agenda kencannya, Edward dan Anina adalah prioritasnya. Brian sendiri memang sudah digadang-gadang untuk menggantikan posisi ayahnya, itulah kenapa ia memaksa para sepupu untuk ikut kembali ke Indonesia. Minimal bersama mereka, hidup Brian bisa berkurang tingkat stres-nya.

“Lu mikirin alasan dari sekarang deh, besok sore kita ke apartemennya Dion. Kasian juga dia beres-beres gak ada yang bantuin.” ujar Brian.

Surya mengecek grup percakapan mereka di ponselnya, “Eh udah beres nih pindahannya.” Surya memperlihatkan foto yang dibagikan Dion, terlihat sudah rapi walaupun masih ada sisa kardus yang belum dibereskan.

“Eh dibantuin tetangganya beneran berarti, pantes foto lu dijual, Dan.” Brian terbahak lagi.

Surya memencet remote mobil, kemudian membuka pintunya, “Eh kok lo tau tetangganya Dion? Anak kantor?”

Brian membuka pintu bagian belakang mobil, diikuti Wildan yang duduk di samping Surya. “Kayanya emang ada anak kantor yang tinggal di komplek apartemen situ, gue gak yakin sih tapi ada.”

“Lho mas-mas ganteng belum pada pulang?” Pak Samsul, petugas keamanan, muncul sambil membawa senter. 

Surya keluar lagi dari mobil dan memberikan kunci mobilnya, “Saya titip semalem ya, Pak. Besok pagi saya ambil, mau sekalian ke bengkel. Sama ini buat Bapak sama teman-teman lain beli camilan.” Surya menyelipkan dua lembar uang seratus ribu ke tangan Pak Samsul.

“Waduh saya yang gak enak nih, Mas Surya. Dikasih terus.”

“Terima aja Pak Samsul, mumpung yang ngasih Surya.” teriak Brian dari arah mobil.

“Siap komandan!”

*

“Yon, jadi gak? udah di depan nih.” Sabrina mengirimkan pesan teks untuk Dion yang seketika dibalas oke.

Dion muncul dari balik apartemennya dengan menggunakan training suit warna abu-abu. Rambutnya sedikit basah bekas keramas yang tidak sempat dikeringkan. “Basah gitu gak apa? Ntar masuk angin.” sahut Sabrina.

“Aman, ntar juga kering sendiri. Yuk.”

Hari ini karena tuntutan pembayaran DP, Sabrina menemani Dion berbelanja di supermarket kawasan apartemen mereka. Bukan supermarket yang besar, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan para penghuni apartemen di kawasan tersebut. “Di sini sedia galon sama gas juga, Yon. Jadi elo tingga chat aja bisa dianter. Sekalian sama list belanja juga bis–“

Dion menarik tubuh Sabrina yang nyaris terserempet sepeda listrik yang nyelonong di area parkir. “Bahaya juga nih sepeda listrik, kagak kedengeran suaranya pula. Lo gak papa, Bri?” Jantungnya berdegub sedikit lebih cepat, antara kaget hampir terserempet sepeda dan menyadari tangan Dion yang sekarang sedang merangkul bahunya.

“Gak apa kok.” Sabrina menjauhkan badannya, tapi ada aroma musk yang tersisa menempel di bajunya. Buru-buru ia masuk ke dalam supermarket sambil menyambar kereta dorong sekenanya.

“Bareng aja keretanya, ntar dipisah di kasir.” Dion mengambil alih kendali kereta, membuat tangannya bersentuhan dengan Sabrina. Sekali lagi. Tidak sengaja. Ada desir tipis yang inginnya tidak ia hiraukan, tapi wangi peony mengusik indera penciumannya ketika mereka bersebelahan.

“Lo perlunya apa? Kalo di depan section buah sama sayur, peralatan kebersihan di pojok kanan, roti-roti di deket kasir.” Sabrina menjelaskan tanpa melihat ke arah Dion.

“Kita susurin aja ya, sekalian gue ngapalin letaknya.” Dion mensejajari langkah Sabrina.

Dion kemudian dengan santai memasukkan beberapa barang ke keranjang, Sabrina sendiri hanya ikut memasukkan minuman probiotik dan yogurt. Membiarkan Dion berjalan duluan dengan keretanya.

“Dion?” seorang perempuan berambut pendek menyapa. Sabrina yang berjalan di belakang mau tidak mau menabrak punggung Dion yang berhenti mendadak. 

Dion berpikir sejenak, siapa perempuan yang menyapanya. “Lulu. Temen SMA. Lupa ya?” lanjut perempuan itu.

Seketika Dion memutar memori masa SMA. Lulu dalam ingatannya berbalut baju putih-abu sambil menyodorkan setangkai bunga dan menyatakan perasaannya. Namun Dion dengan terpaksa menolak karena tidak dapat membalasnya. “Oh hai, Lu. Apa kabar?” Dion berlanjut basa-basi.

“Baik-baik. Lo apa kabar sih? habis kuliah di Amrik gak pernah berkabar di grup SMA deh. Balik Indo juga sepi-sepi aja. Eh pacar lo ya?” Lulu menoleh ke arah Sabrina yang berada di balik Dion.

Belum sempat Sabrina membantah, Dion dengan cepat menjawab, “Iya.”

“Mommy, playground, mommy.” Gadis kecil berkuncir dua tiba-tiba menarik Lulu untuk segera beranjak.

“Luna, shake hands dulu sama uncle – aunty-nya.” Luna memberi salam kepada Dion dan Sabrina dengan terpaksa, sambil tetap menarik baju ibunya.

“Catch up with you later yaa, Yon. Mari, mbak. Duluan ya.” Lulu kemudian pamit, beriringan dengan Luna yang tampak sumringah karena permintaannya dituruti.

“Besok-besok gue delivery aja deh.” tutup Dion mengakhiri edisi belanja hari ini.

Airport Fashion

Belum juga pukul 8 pagi, tapi Mila sudah ngedumel di samping Sabrina. “Gue udah dandan corporate look kaya gini dan mereka cuman pake celana cargo, kenapa cakepan mereka sih?”

Sabrina cekikan, sambil memperhatikan rekan sekantornya yang hari ini memakai setelan celana pantalon dan blazer keluaran Zara, serta sepatu Ferragamo. Bandara di tengah minggu tentu penuh dengan style mbak-mbak korporat seperti Mila, tapi di gate mereka menunggu masuk ke pesawat hampir semuanya menggunakan baju santai khas liburan karena destinasinya pulau dewata.

“Lo emang gak baca rundown yang dikasih Brian?” sahut Sabrina. Hari ini dia memilih aman memakai celana jeans dan kaos bergaris lengan panjang, dan new balace 530 yang bisa digunakan untuk lari tipis-tipis kalau harus pindah gate. “Kan ntar mampir hotel dulu.”

“Emang di-share di mana, nyet? Lo dijapri ya?”

Sabrina membuka ponselnya untuk mengecek ulang, “My bad, di-share-nya di grup tetangga ternyata.” Grup tetangga ini sebenarnya akal-akalan Dion saja, dengan dalih daripada chat berdua mending ramean. Dibuatlah grup tersebut dengan menambahkan Surya, Brian dan tentu saja Wildan.

“Iya deh yang sekarang circle-nya Sukmana.”

“Diem lo.”

“Bri, lo liat ya, gue udah bawa Tumi gini. Sama Dion yang cuman bawa tas laptop beli di tokped. Kok tetep kerenan doski ya?” Mila kembali ngedumel. Pandangan mata mereka sekarang mengarah pada Sukmana Bros yang juga menunggu di ruang tunggu. Ketika ditanya kok gak nunggu di lounge, mereka hanya menjawab lounge-nya jauh banget, capek. “Cetakannya orang kaya emang beda ya.”

Walaupun di grup tetangga hanya ditulis dresscode kaos hitam dan sepatu vans, tapi mereka memiliki style masing-masing yang tentu saja enak dilihat. Dion menambahkan jaket beige dengan aksen merah kotak-kotak keluaran Umbro x White Mountaineering serta celana denim hitam. Brian memilih topi hijau Kith dengan inisial K –bisa diartikan merknya atau gebetan terbarunya, yang senada dengan celana kargo-nya serta jaket hitam. Surya paling simpel hanya setelan jaket-celana training berwarna biru-hijau, tidak lupa topi Polo Ralph Lauren warna hitam yang menjurus ke buluk. Khusus Wildan, Sabrina sampai memekik dalam hati, dia memadukan cardigan hitam dengan celana ripped jeans keluaran Matin Kim, dan menambahkan scarf KAPITAL sebagai aksen di lehernya. He’s so cute! Sabrina jadi merasa underdressed dengan kaos uniqlo-nya.

“Itu baju ditotal sama tas plus jam tangan keknya tetep banyakan itu sih daripada gaji kita.” Mila berkata prihatin, Sabrina pun ikut setuju dalam hati.

Brian menghampiri dua rekan sedivisinya itu sambil menyodorkan dua gelas kopi susu Famima, “Loh Mil, gak gerah?” 

“Diem lo.” tapi tangannya tetap menerima gelas kopi dari Brian. “Thanks anyway.”

“Ya gue pikir udah di-share sama Sabrina, Mil. Sorry.”

“Apa yang lo harapkan dari orang yang lagi jatuh cinta, Brian?”

Kali ini Sabrina langsung menoyor kepala Mila, dan Brian ikut terkekeh, “Bener lagi, lo liat sodara gue jadi genit gitu.”

“Itu fashion ya, Brian.” Ganti Sabrina melotot ke Brian.

“Ampun deh dari gue yang gak ngerti fashion.”

Sabrina cemberut, sampai ada satu pesan masuk ke ponselnya. “Nanti sore jalan yuk.” Matanya mencari si pengirim pesan yang duduk di seberang ruang tunggu, senyumnya melebar, kemudian menganggukkan kepalanya. So this is love.

Mendadak Bintang Iklan

“Duh makasih banyak lho Mas Surya, Mas Wildan, Mas Brian, Mas Dion. Terutama Mas Wildan sama Mas Dion nih sampai bersedia turun gunung. Ehem..mas Wildan juga kalo ada berita royal wedding boleh loh kami dapet eksklusifnya. Nanti foto-fotonya yang tadi, saya mintakan ke pihak fotografer. Bagus banget kalo mau sekalian buat prewed. Mas Dion nih kalo saya lihat ada bakat terpendam loh, Mas. Gak pengen nyoba peruntungan jadi model nih, Mas?” Mbak Laras, junior editor Tatler, yang siang itu menemani Sukmana’s Bros pemotretan tampak sangat girang melihat hasilnya. Sempat merepet perkara royal wedding membuat Wildan mulai mesam-mesem. Tapi telinga Dion yang mendadak merah karena tiba-tiba dapat tawaran jadi model.

Hari ini secara spesial mereka diundang untuk melakukan wawancara serta pemotretan untuk perayaan ulang tahun Tatler ke-17, biasanya hanya Brian atau Surya yang kebagian artikel di dalamnya. Tapi karena ini merupakan perayaan khusus, Wildan serta Dion ikut berpartisipasi. Tidak tanggung-tanggung, pemotretannya untuk cover-nya pun dilakukan di Jepang. Itulah sebabnya Wildan dan Dion dengan sukarela ikut dengan alasan sekalian jalan-jalan gratis.

“Saya kenal nih sama editornya Cosmo, eh terus ini kayanya emang cocok deh. Mas Dion pake produk Galaxy juga kan. Galaxy lagi ada campaign deh, Mas. Cocok banget ini. Nanti coba saya speak-speak ke orang Galaxy yaa.” 

Dion yang disebut-sebut terus masih cengengesan sementara Brian mulai menahan tawa. “Mbak Laras, orangnya mulai grogi nih.”

“Aduh Mas Dion natural banget kok, tadi diarahin dikit aja udah langsung paham. Cepet nih kerjanya kalo sama Mas Dion.” Laras terus melanjutkan puji-pujiannya, bagaimana pun ia merasa sayang kalau bakat terpendam Dion hanya dipendam saja. “Gimana, Mas Dion? eh atau saya kontak ke manager-nya ya?”

“Gak ada manager lah, mbak. Urusan gini di-handle kita-kita sendiri.” kali ini Brian yang bersuara, terlebih karena memang dirinya yang paling sering mendapat tawaran pemotretan majalah walaupun untuk keperluan pekerjaan. Sukmana perlu wajah grup, dan Brian adalah wajah dari Sukmana. 

“Berarti saya boleh minta nomornya Mas Dion ya? Ini kartu nama saya, eh ya Mas Brian sudah punya juga sih.” Laras memberikan kartu namanya, yang diikuti Dion menyerahkan kartu nama miliknya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya terjadi tukar menukar kartu nama ini berujung ke tambahan jalan karir lain untuk Dion.

“Nanti saya berkabar ya, Mas Dion. Sekali lagi terima kasih banyak semuanya. Bagus banget ini pemotretan sama wawancaranya. Nanti malam saya gak ikut nemenin dinner gak papa ya, Mas-mas. Ada yang mesti dikerjain lainnya, tapi udah direservasi atas nama Sukmana.” Laras menyalami Dion, Surya, Wildan dan Brian bergantian, sembari berpamitan.

Brian mulai melanjutkan tawanya, “Begitu turun gunung langsung dapet tawaran jadi model cuy.”

“Sama tawaran iklan Galaxy.” Surya menambahkan.

“Yon, kalo butuh review kontrak bintang iklan bisa sama gue ya.” Wildan menimpali.

Dion yang tadinya cengengesan mendadak serius, “Emang gue ternyata se-photogenic itu ya? Mestinya yang jadi face of Sukmana Corp tuh gue deh bukan Brian.”

Brian melempar handuk yang terselampir di pinggiran kursi, pas mengenai kepala Dion, “Terserah!”

Together

“Suryaaaa, nebeng ke kampus dong.”

Belum sempat Surya mengiyakan, sesosok gadis berambut panjang-hitam-tebal, berkulit sawo matang, sudah duduk di kursi penumpang sebelah kirinya. Awalnya tampak agak kesulitan menaiki Ford truk pick up itu, tapi Nina–nama gadis itu, akhirnya duduk sambil bersiap mengenakan lipstik. Nina membuka sunvisor dan menemukan cermin di situ. Sementara Surya masih mengamati pemandangan pagi ini, Nina mengenakan mantel cokelat sepaha menutupi kemeja putih serta terusan kotak-kotak hijau tua di dalamnya, dan menambahkan aksesoris pita tipis di lehernya. Chic seperti biasa.

Nina mengatup-ngatupkan bibirnya, meratakan pulasan lipstik dan memandang Surya yang hanya terdiam. “Surya, buruan..telat nih.” Nina memberi gestur menepuk jam tangan Vivienne Westwood yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Menyadari dirinya terhipnotis, Surya segera menyalakan mobil dan melaju perlahan.

Karenina Saraswati, alias Nina, gadis blasteran Bali – Colombia ini adalah tetangga dari The Sukmana Brothers. Yang secara kebetulan Mr. Rick, ayah Nina merupakan rekan bisnis Oom Edward, ayah Brian. Dan demi kemudahan pengecekan para bujang di negeri Paman Sam, Mr. Rick mencarikan rumah di dekat rumahnya. Terlalu dekat malah. Nina sendiri satu fakultas dengan Wildan, jadi sebenarnya Surya juga tidak terlalu sering berinteraksi dengan Nina. Namun karena Nina adalah gadis supel dan periang, hampir setiap sudut kampus mengenalinya. Terutama karena saat ini Nina adalah kekasih dari Jason, ketua tim basket kampus. Sounds cliché, but the popular always click together.

“Kok gak dianter Jason, Na?” Surya membuka topik pembicaraan supaya tidak terlalu sepi. 

“Kalo pagi biasanya aku dianter Papa sih, tapi tadi agak kesiangan bangun, terus Papa kayanya buru-buru. Liat kamu belum berangkat, ya udah nebeng aja deh. Gak papa kan, Surya?” kata Nina sambil menoleh ke arah Surya memberikan senyum termanis yang ia bisa.

“I-iya gak apa.” Surya bisa merasakan pipinya menghangat, kalau dilihat pasti terlihat perubahan semu merah.

*

“Makasiiiih Surya, kapan-kapan aku traktir makan siang bareng sama anak-anak ya.” Nina langsung mengambil tas Loro Piana-nya sambil mengangkat buku-buku yang ia bawa. “See you around.”

“See you..”

Nina keluar dari mobil Surya dan meninggalkan wangi Rose tipis di mobilnya, mata Surya masih mengikuti Nina yang tak lama bertemu dengan teman-temannya. Surya bersiap untuk keluar dari mobilnya, namun matanya tertumbuk menemukan lipstik Dior milik Nina yang terjatuh di kursi penumpang. Surya tersenyum tipis, sebelum akhirnya menaruh lipstik itu di dasboard mobil. “Nanti aku balikin deh..”

*

Sudah hampir 2 minggu Surya tidak melihat Nina, sepanjang yang ia tahu Nina selalu terlihat di mana-mana. Walaupun tidak satu gedung, tapi biasanya Surya selalu bisa menemukan keberadaannya. Bahkan di rumah pun, mereka bisa tiba-tiba bertemu di jalan. Tapi ini nihil, seakan Nina memang sedang menghilang begitu saja.

Pagi ini Surya sebenarnya ingin bertanya pada Wildan, sepupunya, yang walaupun terlihat pendiam sebenarnya paling terdepan dalam gosip kehidupan kampus. Namun Surya mengurungkan niatnya. Sampai ia menemukan Nina, berdiri di samping mobilnya, menangis.

Gadis itu duduk sambil memeluk kedua kakinya, tas dan barang-barangnya tergeletak begitu saja. Nina segera menghapus air matanya, namun Surya dengan perlahan ikut berjongkok di sebelahnya. “Are you okay?”

Nina tersenyum sambil mengangguk namun kemudian menggeleng cepat, kembali buliran air mata membasahi pipinya. Surya membuka pintu mobil, mencari tissue dan memberikan pada Nina. “Do you want to go inside?”

“Boleh ya, Surya? I just can’t find the perfect place to hide, but then I saw your truck.”

“It’s okay.”

Surya mempersilakan Nina masuk ke kursi penumpang, “Aku tunggu di luar ya.”

Nina mengangguk lemah dan membiarkan Surya yang kemudian sibuk menyalakan pemanas dan mencari selimut di jok belakang, sebelum menutup pintu mobil. Surya bisa melihat Nina agak menggigil, berapa lama gadis ini duduk di luar dalam cuaca sedingin ini?

Surya berjalan menjauh dari mobilnya, mencari vending machine terdekat karena setelah menangis pasti Nina akan sangat kehausan. Sembari mengabari Dion kalau harus membatalkan sesi main game malam ini. Satu jam, dua jam. Surya masih menunggu di luar mobil, udara mulai semakin dingin, Ia merapatkan jaket parka serta mengeratkan scarfnya. Sampai Nina kemudian menghampirinya, “Thanks ya, Surya.”

“Anytime. Better now?”

“Much better. Makasih ya, sampai dibawain air sama roti. Aku tadi makannya pelan-pelan kok supaya gak ngotorin mobil kamu.” Nina merasa bersalah.

Surya tersenyum, “Gak apa kok, Na. Yang penting kamu udah mendingan. Masih laper gak?”

“Kamu yang laper ya, Surya?” Nina menahan tawa mendengar suara perut Surya. “Maaf ya, aku padahal janji nraktir kamu makan siang, tapi it’s dinner now. Sekarang mau?”

Surya mengangguk dan mengajak Nina kembali masuk ke mobil.

Sepanjang perjalanan Nina tampak seperti baik-baik saja, dengan nada ceria dia bercerita bagaimana Ayahnya pernah mengajak Nina hiking di Lombok, sailing di Labuan Bajo, dan betapa dia kangen dengan Bali. Surya memperhatikan sambil sedikit-sedikit mencuri pandang.

Sampai di Diner pun Nina masih tampak ceria sambil memesan burger dan kentang goreng untuk Surya, sementara ia memesan segelas milk shake strawberi.  “Kamu gak apa nih cuman ditraktir di sini?”

Surya mengangguk sambil mulai memakan kentangnya, “Aku sih gak yakin kamu mau ketemu orang kalo liat wajah kamu kaya gini?”

Nina panik dan mengeluarkan cermin kecil dari tasnya, “Surya ih kok gak ngasih tau sih?” Ia memandangi eyeliner yang agak luntur di sudut matanya sambil mengelapnya dengan tissue.

“Ya aku pikir konsepnya gitu, Na.”

“Mana ada ya, Surya?” Nina melempar tissue bekasnya ke arah Surya dan dengan sigap Surya menangkapnya. “Nice reflect.”

Nina menyeruput milkshake-nya dengan cepat, ketara ia sendiri cukup lapar tapi tidak terlalu ingin menambah kalori dengan memakan burger serta kentang. Putus boleh, gendut jangan, begitu prinsipnya. Ia menghela nafas ketika milkshake-nya berhasil ditandaskan.

Surya mengangguk sambil menahan senyum, “Nih separoan burger sama aku aja.”

“Nanti kamu kurang loh, Surya.”

“Ya kan bisa pesen lagi, kamu yang traktir ini.”

Nina tersenyum, kemana saja dia selama ini kenapa tidak pernah tampak olehnya kalau Surya memiliki senyum yang lucu ketika menampakkan gigi kelincinya. Mata Surya yang tampak berkilat-kilat ketika tersenyum. Serta alis tebal yang membingkai mata itu. It’s perfect.

“Oh iyaa, lipstik kamu ketinggalan di mobil aku tuh.”

“Aaah pantes aku cari gak ketemu.” Nina tersadar dari lamunannya.

“Kamunya ngilang sih.” ujar Surya pelan.

“Kamu nyariin?”

“Ya kan aku mau balikin lipstik kamu.”

“Kan bisa dititip sama orang rumah, Surya.”

“Ya gak enak lah nanti dipikir macem-macem.”

“Dipikir kamu suka pake lipstik gitu ya?” Nina terkikik.

“Ya gak gitu juga sih, Na.” jawab Surya. “Are you okay now?”

Nina menghela nafasnya, “I think I’ll get better. Sorry ya jadi ngerepotin kamu deh dari sore-malem gini.”

“Enggalah aku santai kok.”

“Beneran nih gak ada yang nyariin?” goda Nina, dengan penampilan menarik gini mustahil sebenarnya Surya tidak memiliki kekasih.

“Paling Dion, Wildan, Brian. Dah gede-gede ini.”

Nina mengedarkan pandangan dan menemukan sebuah gitar akustik di panggung kecil. “Main dong Surya, aku pengen denger. Tahun kemaren kamu ngisi festival juga kan sama anak-anak? Main dong.”

“Malu lah, Na.”

“Iih orang kita doang isinya.”

Surya memandang ke sekeliling dan memang hanya ia, Nina dan penjaga Diner yang ada di situ. “Aku tanya dulu deh.”

Surya beranjak dan bertanya pada penjaga Diner, ternyata dipersilakan.

“Nyanyi apa nih? Request deh.”

“Officially Missing You dong, Surya.”

“Oh masih kangen?”

Kali ini Nina melempar tissue lain dan mendarat di wajah Surya, “Rasain! Ngegodain sih.”

Surya terbahak, kemudian mencoba menyetem gitar dan memetiknya. Tidak pernah terbayangkan bisa membuat mini konser dengan penonton yang sangat istimewa di hadapannya. Mungkin memang Nina masih belum lupa, tapi Surya yakin kali ini ada kesempatan untuknya.

*

“Kata gue tembak gak sih?” Brian memberi saran.

“Lampu ijo banget sih itu, Mas.” Wildan ikut menimpali.

“Katanya Mark anak rugby juga deketin sih, Mas.” Kali ini Dion ikut nimbrung.

“Kok lo tau? Kan beda kampus.” Surya sewot.

“Intel, Mas, Intel.”

Brian menguap sambil berkata, “Lagian ngapain sih pendekatan sampe 2 bulan tuh? Puasa aja tuh cuman sebulan loh.”

“Emang elo, Bri. Pdkt 3 hari – pacaran seminggu – terus putus.” ejek Dion.

Seketika bantal terbang mengenai muka Dion. Tidak terima dengan perbuatan Brian, Dion langsung menyerang balik.

“Dipikirin baik-baik ya, Mas. Kemaren udah ketinggalan lipstik, ini ketinggalan cermin, mana tau habis ini hatinya juga yang ditinggalin kan.” ujar Wildan tanpa mempedulikan pertarungan di belakangnya. 

“Dangdut lo,” kali ini Wildan juga menjadi sasaran perang bantal antara Brian dan Dion.

“Besok gue tanya deh kalo gitu.” ujar Surya mantap.

*

Surya memutar-mutar kunci mobil sambil bersandar di kap mobilnya. Sesekali mengecek jam tangan Cartier di tangan kirinya. Mematut-matutkan diri di spion, lalu merapikan kemeja hitam denim yang dipadukan dengan celana denim serupa. Rambutnya sudah agak lebih panjang, tadinya ingin diikat, tapi tampaknya lebih rapi di-styling seperlunya. Sudah lama Surya tidak merasakan sensasi seperti ini, terakhir jantungnya berdebar cepat adalah ketika festival band tahun lalu, di mana ia, Brian, Wildan dan Dion ikut tampil mewakili perwakilan mahasiswa Indonesia. Tapi kali ini debarannya berbeda, Surya tersenyum melihat Nina berjalan ke arahnya, mengenakan sundress putih dan rambut panjangnya diikat separuh.

Surya membukakan pintu mobil, serta membantu Nina naik, lalu menutup pintunya. Lalu segera ikut masuk ke dalam mobil.

“Cakeb banget.” goda Nina. “Kita cuman mau ke perpus kan?”

“Makasih. Rencananya gitu sih.” ujar Surya sambil menghidupkan mesin dan mulai melajukan mobilnya.

“Hmm..”

“Suka gak?”

Nina menoleh, sambil menatap Surya bingung. Sebenarnya percakapan-percakapan sepeti ini sering terjadi di masa dua bulan mereka bersama, tapi yang sering terjadi Surya selalu mengalihkan pembicaraan. Nina tidak ingin terjebak lagi. 

“Suka apanya nih?”

Surya terdiam, mendehem sebentar, “Hmm..akunya?”

“Akunya nih maksudnya aku suka kamu gitu?” kali ini Nina memberanikan diri bertanya lebih lanjut.

Surya mengacak rambutnya tanpa sengaja, sambil tersenyum malu-malu memperlihatkan gigi kelincinya. “Iya.”

“Oooh..” Nina mulai cekikikan. Bagaimana mungkin pria yang tinggi besar ini bisa menjadi super pemalu ketika ditodong pertanyaan begitu. Gemas, pikir Nina. “Suka kok.”

Surya hampir mengerem mendadak, dan tanpa sadar tangan kirinya berada di hadapan Nina. “Sori-sori, Na. Kaget ya?”

“Yang lebih kaget kayanya kamu deh, Surya.”

Surya menepikan mobilnya, khawatir kalau diteruskan malah berbahaya. Ia menoleh ke arah Nina. “Kalo pegang tangannya boleh?”

Nina mengulurkan tangan kirinya dan menggenggam tangan kanan Surya, kemudian meletakkannya di pahanya. “Oh pake ijin segala ya.”

“Kan masih first step, Na.”

“Emang next step-nya apa?”

Surya mendekatkan tubuhnya ke arah Nina, berbisik pelan, “We’ll get there. Together.”

Moving Day

“Jadi siapa nih yang bantuin gue pindahan hari ini?” Dion mengerjapkan mata sambil menunggu respon para abangnya.

“Loh bukannya besok pindahannya?” Surya berkata bingung sambil mengecek ponselnya. “Eeeh hari ini ya, Yon?”

Dion mengerucutkan bibir, dan mengalihkan pandangan kepada dua kakaknya yang lain. Wildan masih pada sambungan telepon sementara Brian mengecek tablet-nya. 

“Yaaaah..gue lupaaaa, Yon.” Brian menepuk dahinya. “Serius udah gue tulis di jadwal, tapi gue yang lupa.”

“Lupa apaan?” Wildan lanjut bertanya setelah mengakhiri sambungan telepon.

“Pindahannya Dion.” Surya berkata lirih takut adiknya semakin kesal.

Wildan mengalungkan tangannya ke leher Dion seraya berkata, “Besok ya gue bantuin seharian deh, hari ini mesti ngurusin berkas di notaris sampe sore.”

Dion yang kadung kesal menghempaskan tangan Wildan, “Besok kan lu ada outing, Mas Brian paling ada janjian sama gebetannya yang baru, Mas Surya ke bengkel. Makanya dibikin hari ini. Pada jahat sama aku.” Dion menyudahi makan siangnya, dan beranjak dari kantin, mendahului kakak-kakaknya.

*

“Kakak yang di depan pake jaket hitam, boleh minta tolong gak? Ada dus warna cokelat deket lift, boleh di bawa ke sini?” Dion berteriak dari dalam apartemennya, ketika melihat seseorang muncul dari balik lift. Menurut perkiraannya, pekerjaan pindahan ini masih bisa dia atasi sendiri bersama petugas jasa pindahan yang dia sewa. Nyatanya beberapa dus serta kontainer belum berhasil masuk ke dalam apartemennya. 

Dion menelengkan kepala dan segera menghampiri sosok yang membawa kardus cokelat yang dia minta. “Hello, neighbour!”

“Dion?”

Matanya berbinar mengetahui siapa yang hadir di hadapannya, senyum merekah di bibirnya, “Hai kakak yang naksir Mas Wildan!”

Sabrina masih berusaha memproses apa yang saat ini terjadi, Dion Putrakusuma sedang tersenyum padanya, dan menjadi tetangganya. Bukan hal yang mudah untuk dicerna. “Kak Sabrina kan? Boleh bantuin gak? pada bail out semua nih, nanti imbalannya gede deh, Kak.”

Yang terjadi setelahnya Sabrina ikut membantu Dion menata barang-barang di apartemennya, sambil sesekali Dion bercerita tentang hobi memancing dan menjelaskan kenapa dia memiliki satu set drum yang akan diletakkan di kamar khusus kedap suara. “Selesaaaai!” Dion dengan bangga bertepuk tangan dan mengacungkan jempol ke arah Sabrina. Sungguh situasi yang sama sekali tidak pernah terbayangkan bisa berinteraksi dengan salah satu Sukmana sekali lagi. Dion menyodorkan sebuah botol air mineral dingin untuk Sabrina, “Nih kak, minum dulu. Makasih banyak ya, kak.”

“Kak Sabrina ini cuman ngobrol banyak kalo topiknya Mas Wildan ya? Diem banget.”

Sabrina terbatuk, tidak menyangka topik tentang Wildan akan dibahas. Dion segera mengulurkan tissue, tapi sambil tertawa kecil. “Sorry..sorry, Kak. Eh siniin handphone-nya deh, Kak.”

Dion mengambil ponsel Sabrina, memasukkan nomor dan menyambungkannya pada aplikasi pesan, “Nih, kak. Imbalannya, nanti kalo Kak Sabrina ngasih aku nomor tukang galon langganan, aku kasih lagi.”

Sabrina membuka pesan yang dikirimkan Dion, kemudian terbatuk lagi. Kali ini dikarenakan foto masa kecil Wildan. “Is it okay?” tanya Sabrina perlahan.

“Aman, Kak. Itu lisensinya aku yang pegang.” Dion terbahak.

“Well..thank you then.” 

“My pleasure.”

Sabrina kali ini mau tidak mau jadi merasa tertarik dengan si bungsu yang tampaknya memang ingin diajak ngobrol ini, “Jadi kenapa pindah dari Sukmana suites?”

“Hmm…pengen aja sih, Kak. Pas di Amerika juga bareng mereka terus, kayanya balik Indo emang mesti mandiri sih. It’s never been easy to be Sukmana kan, kak.”

Sabrina mengangguk, nama besar Sukmana memang cukup diperhitungkan dalam kancah perbisnisan. Walaupun ayah Dion bukan termasuk yang membesarkan Sukmana Corp, tapi tetap saja membawa nama tersebut tentu menjadi beban tersendiri bagi Dion, “Tapi kok akhirnya mau kerja di sini, Yon?” Sabrina menarik jaketnya, Dion dengan cekatan mengatur suhu di ruang tengah melihat Sabrina agak kedinginan.

“Diajakin Brian Tedjasukmana lah.” jawab Dion sambil sibuk beralih ke dapur mencari sesuatu yang hangat untuk Sabrina. 

“Jadi ide Brian semua nih ngajakin kalian balik ke Indo buat kerja di Sukmana Corp?”

Dion selesai membuat teh hangat, mendekatkan mug berwarna biru muda ke arah Sabrina, “Adanya ini ya, Bri. Iya sih, Mas Brian yang ngajakin semuanya balik. Tapi yang paling pertama setuju sih Mas Surya. Aku sama mas Wildan ngikut aja, karena belum dapet kerjaan. Eh mas Wildan udah ada tawaran sih benernya, cuman kangen rumah katanya.”

“Woaaaaahh..emang semua Sukmana gini ya?”

“Gini gimana? This is manner yaa, kan kamu tamunya.”

Sabrina meniup-niup mug-nya sambil tersenyum kecil. “Tapi kalian tuh emang naikin standar tau.”

“Emang naik motor ada standar-nya? Ini tuh basic banget loh, Kak. Habis ini aja benernya mau ajakin makan malem karena udah bantuin pindahan.”

“Ini juga diajarin Brian?” Sabrina terkekeh.

“Bukan, emang kami diajarin sama Nenek dari kecil. Urusan basic manner semua Nenek yang ajarin.” Dion menjawab serius. Ingatannya kembali ke masa kecil di mana setiap sebulan sekali pasti ada kunjungan ke rumah Nenek Ali Sukmana. Brian selalu menjadi yang paling disanjung nenek, tapi Dion yang paling disayang. Dion kecil masih boleh bail out sambil curi-curi makan cookies di dapur. Sampai sekarang pun agenda bulanan itu selalu ada, walaupun ketika mereka semua di Amerika agendanya berubah menjadi tahunan. Generasi yang sekarang diisi oleh keponakan-keponakan generasi Alpha yang energinya luar biasa, Dion saja sampai kewalahan kalau bermain dengan Kenanga, anak kakak perempuannya.

Sabrina mengangguk-angguk penuh kekaguman, sulit memang membayangkan Dion yang selalu tampak slengekan di kantor, ternyata manis sekali kelakuannya. 

“Eh gimana tawaran makan malamnya?”

“Pass deh, Yon. Lagi diet.”

“Hmm..takut naksir ya kalo berduaan?”

Tanpa sadar pipi Sabrina memerah, “Ngawur. Aku balik ya.”

Dion ganti cekikikan, menikmati perubahan raut muka perempuan di hadapannya yang tiba-tiba panik. Padahal itu juga dia lakukan supaya telinganya yang memerah tidak ketahuan. Sabrina berjalan cepat ke arah pintu, “Bri, besok anterin ke supermarket dong.”

“Kok jadi banyak sih permintaannya.” 

“Aku kirimin DP deh, coba dicek dulu.”

Sabrina mengecek ponselnya, kemudian senyum mengembang di bibirnya, “Yon, kalo ini DP-nya aku mesti nemenin kamu belanja seminggu?”

Kali ini foto kecil Wildan kala didandani menjadi putri oleh kakak-kakak perempuan mereka yang Dion kirimkan, dan masih banyak foto-foto lain yang memang sengaja Dion simpan karena suatu saat akan berguna. “Ya minimal emang seminggu sih. See you tomorrow, Kak.”

*

Wildan memijat dahinya sambil memejamkan mata. Pekerjaannya hari ini cukup padat, sampai dia melupakan janji untuk membantu Dion pindahahan. Pukul 22.00 dan Wildan baru benar-benar menyelesaikan pekerjaannya. Padahal esok hari dia harus berangkat Outing ke Bogor bersama rekan satu divisinya. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Dion.

“Mas, foto lu gue jual ke tetangga. Cantik orangnya :p”

Hello Neighbour!

The Sukmana Brothers begitu mereka biasa dipanggil, memasuki wilayah kantin Sukmana Corp yang terletak di lantai 7 Sukmana Tower. Surya Hadisukmana berjalan paling depan, diikuti sepupu-sepupunya, Brian Tedjasukmana, Wildan Ariosukmana dan si bungsu, Dion Putrasukmana. Seluruh karyawati tampak saling berbisik kentara sekali tertarik. Sukmana Bersaudara padahal cukup sering makan siang di kantin, menyandang nama Sukmana tidak lantas menjadikan mereka istimewa, tapi jelas penampilannya berbeda. Surya dengan kemeja dan celana beige yang tampaknya keluaran Polo Ralph Lauren, Brian yang hari ini menggunakan setelan Thome Browne abu-abu, Wildan kemeja dan celana hitam keluaran Prada, sementara Dion yang paling santai memakai kaos dibalut jaket ber-capuchon serta sepatu converse tampak seperti anak magang yang ikut kakak-kakaknya bekerja. Alasannya anak IT ketemunya cuman kabel di ruang server, gak perlu resmi-resmi banget. 

“Gak kedip lu ngeliatin Wildan, bentar lagi masuk deh lalat ke mulut.” Mila menyenggol bahu Sabrina yang memang tidak berkedip sejak The Sukma Bros masuk ke kantin. Sabrina mengerucutkan bibirnya, seraya berkata, “Ganteng tauk, Mil.”

“Gue gak buta yaa, Bri. Tapi ganteng Surya sama Brian gak sih?”

“Gabung sama groupies-nya sana.” Sabrina menunjuk ke sisi barat kantin dengan dagunya. Beberapa perempuan berkumpul terlihat bersemangat bahkan mencuri-curi kesempatan untuk mengambil foto. Ajang makan siang di Sukmana Tower memang bisa berubah menjadi acara ketemu penggemar.

Sabrina melanjutkan makan siangnya, yang kebetulan hari ini menu kesukaannya Dori telur asin, tapi matanya tak lepas dari Wildan. Wildan dengan matanya yang ikut menyipit ketika tertawa, tentu tetap lebih menarik daripada Dori di hadapannya. Pertemuan pertamanya dengan Wildan menjadi satu hal yang tak terlupakan, Sabrina yang saat itu menunggu taksi online di depan Sukmana Tower tiba-tiba dijambret dan dengan adegan heroik layaknya drama, Wildan berhasil menggagalkan upaya tersebut. Tiga tahun berlalu semenjak kejadian itu tapi nyatanya Sabrina hanya jatuh hati sendiri. Wildan yang kala itu masih anak intern sekarang sudah menjadi salah satu anggota The Legal Elite Team, dengan popularitas yang juga semakin menanjak. Tanpa bermaksud sebagai penguntit, Sabrina tentu tahu siapa perempuan-perempuan yang berada di sekitar Wildan. Kabar tentang Sukmana bros mudah sekali didapat dari grup kantor khusus penggemar. Walaupun belum pernah ada yang terverifikasi menjadi pacar, tapi tidak pernah ada nama Sabrina.

“Bri, buruan yuk. Gue meeting sama Brian habis ini, belom touch up.” Mila mengangkat nampan, bersiap beranjak.

“Gila. Gue pikir nyiapin materi, taunya nyiapin muka.”

“Ya namanya juga usaha.”

“Tapi gue pengen beli kopi di bawah. Lo duluan aja deh.”

“Laaah gue juga mau ngopi, ya udah kita turun dulu lah.”

Berada di dalam lift, Mila mulai membubuhkan lipstick-nya di bibirnya dengan kaca mungil yang selalu dia bawa. Sementara Sabrina mengecek grup penggemar The Sukmana Bros, “Cakep ya Wildan, Mil.”

“Lo ngomong nama Wildan sekali lagi, gue umumin pake mic di reception bawah ya.”

“Galak lu.”

Tiba-tiba lampu lift berhenti di lantai 5, “Loh, Bri, kok berhenti?”

Sorry to interupt you, Ladies. Tapi boleh permisi gak, aku berhenti di lantai ini.” Sebuah suara mengagetkan Mila dan Sabrina, berasal dari balik mas-mas kurir yang tak dianggap, Dion muncul dengan senyum tengilnya. “Nanti aku salamin ke Mas Wildan, Kak..” Dion melirik ke arah name tag yang tergantung di leher Sabrina. “Kak Sabrina.”

*

Sabrina terpaku mendapati kardus-kardus berbagai ukuran tergeletak di depan apartemennya. Selain itu box-box container juga memenuhi koridor, sempat Sabrina bertanya pada petugas keamanan siapa yang akan menempati apartemen di sebelahnya mengingat banyaknya barang yang sejak pagi sudah tergeletak di dekat pintu apartemennya. Bahkan sampai dia sudah selesai lari berkeliling taman kompleks, kotak-kotak itu bahkan belum berkurang separuhnya.

“Sekeluarga banget yang pindahan, Pak?”

“Kayanya engga, neng. Sendirian aja.”

Sabrina berusaha melewati kotak-kotak tersebut untuk menuju pintu apartemennya, sebelum sebuah suara tiba-tiba memanggilnya, “Kakak yang di depan pake jaket hitam, boleh minta tolong gak? Ada dus warna cokelat deket lift, boleh di bawa ke sini?”

Dus cokelat yang dimaksud berada di dekat kaki Sabrina, dengan sedikit dongkol Sabrina membawa dus itu untuk tetangga barunya. Belum apa-apa udah ngerepotin nih, batinnya. Namun belum sempat Sabrina mendekat, si tetangga sudah berada di hadapannya, “Hello, neighbour!”

“Dion?”

“Hai kakak yang naksir Mas Wildan!”

*inspired by Band Bapak-Bapak Kesayangan Day6

Design a site like this with WordPress.com
Get started