Hari ini mestinya Nadya bisa santai berakhir pekan dengan menonton ulang maraton serial Marvel favoritnya, sampai titah Ibunda muncul untuk membawa mobil mereka ke bengkel. Nadya terpaksa menyeret kakinya, ketimbang sang Ibunda merepet di pagi hari. Bengkel langganan keluarga mereka sebenarnya tidak terlalu jauh, Nadya bisa saja menaruh mobilnya untuk kemudian naik ojek daring kembali ke rumah. Setelah memarkir mobilnya, Nadya berjalan menuju seorang mekanik yang sedang memperhatikan dia—atau mobilnya.
“Mas, kemarin ibu saya sudah reservasi atas nama Nadya. Mestinya Mas Danu udah paham sih.” Nadya mengulurkan kunci mobil pada mekanik tersebut.
Mau tidak mau Surya menerima kunci mobil yang diserahkan oleh gadis berambut ikal sebahu di hadapannya. Kehadirannya dengan mobil BMW E60 tadi sudah cukup menarik perhatiannya. “Oh iya, Mbak Nadya ya tadi? ada keluhan khusus gak ya?”
“Hmm..kata Ibu saya sih suka ada bunyi-bunyi di roda kiri belakang. Tapi ini benernya yang sering pake Ibu saya sih, Mas. Tadi pas saya bawa jalan sih gak kedengeran apa-apa.” Surya bergerak mengelilingi mobil berwarna silver tersebut.
“Masih bagus ya, Mbak. Jarang dipake ya?”
“Jarang sih, Mas. Paling kota-kota aja itupun gak jauh, mobil tua juga boros kalo dibawa kejauhan.”
“Tapi ini masih oke banget kok eksteriornya, Mbak. Eh iya tadi roda kiri ya? Nanti saya bantu cek deh, Mbak. Boleh nunggu di dalem aja, Mbak, yang adem, itu sama ada teh botol di cool case.” Surya mempersilakan, penampilannya hari ini memang mirip mekanik apalagi dengan overall warna cokelat dan kaos hitam. Dia terlihat seperti Bob The Builder. Surya jadi tertawa kecil.
Nadya hampir beranjak, kemudian bertanya, “Kira-kira berapa lama ya, Mas?”
Surya tertegun, di sabtu pagi pasti si gadis sudah ada janji lain setelah ini, “Satu jam sih, Mbak. Paling cepet.”
“Oh oke, Mas. Makasih.” Kruuuuk…suara gerakan ususnya cukup keras terdengar, karena malu Nadya segera masuk ke ruang tunggu.
Nadya meletakkan kindle, dompet, serta perintilan lainnya di samping tempat duduknya. Satu tangannya sibuk menyusuri aplikasi ojek daring untuk memesan makanan. Tadi selesai ia lari pagi, sang Ibu sudah menyiapkan kunci mobil, pertanda ia harus segera beranjak ke bengkel. Padahal perutnya kelaparan minta diisi.
“Mbak Nadya, mau sandwich gak?” Mekanik yang tadi tiba-tiba masuk membawa Subway beserta minumnya. “Tadi saya beli kebanyakan, terus tadi gak sengaja denger Mbaknya laper.”
Wajah Nadya memerah, Mas Danu dapet mekanik kaya gini di mana deh, udah cakep, perhatian lagi. “Makasih ya, Mas. Iya nih belum sempet sarapan.”
“No worries, Mbak. Saya usahain cepet aja mobilnya.” Surya keluar dari ruang tunggu sambil tersenyum, ada gunanya juga Danu menolak sandwich-nya tadi pagi.
*
“Njir, lo ngemodusin customer gue ya? Segala sandwich lo kasihin. Padahal tadi gue kan nolaknya basa-basi, Sur.” Danu merepet.
“Yaaaah lo kan tadi bilang udah sarapan di rumah, ya gue kasihin aja. Kasian laper banget kayanya dia.” Surya ternyata tetap memperhatikan Nadya yang sedang melahap sandwich-nya dengan cepat.
“Eh mobilnya gue yang kerjain ya?”
“Gila lu, kalo tambah rusak gimana? Tunggu bentar lagi, itu Budi habis ngeberesin mobil lo lanjut ngerjain punya Nadya. Lu belum lolos probation ya. Tapi boleh deh kalo ganti oli, tapi lo cek dulu kilometer-nya soalnya seinget gue belum waktunya sih,” ujar Danu, yang cukup ingat mobil tersebut sudah sering keluar masuk bengkelnya. “mobilnya agak rumit soalnya.”
“Yaaah oke deh. Atau Budi suruh garap mobil Nadya dulu gak papa deh, Nu. Gue oprek-oprek sendiri mobil gue.”
Danu mengendikkan bahu, “Up to you, man.”
Danu kadang heran dengan kelakuan sahabatnya ini, Surya Hadisukmana jelas punya segalanya. Apalagi dengan title Sukmana di belakang namanya. Tapi sahabatnya ini pulalah yang paling iri (dengan arti positif) terhadap dirinya yang merintis usaha bengkel kecil-kecilan untuk menopang perekonomian keluarga.
“Ini semua tuh usaha lo sendiri, Nu. Kalo gue tanpa Sukmana juga gue bukan siapa-siapa.” selalu begitu kata-katanya jika nama keluarganya tersebut.
Namun di mata Danu, Surya pulalah orang yang paling gigih berusaha dalam apapun, mulai dari belajar bermain gitar hanya 3 bulan untuk kemudian tampil bersama saudaranya di festival SMA (yang ternyata juga menuruti permintaan Brian yang gebetannya waktu itu pengen lihat mereka nge-band) juga mengejar studi sampai S2, serta jabatan di kantornya pun tak serta merta karena ia adalah Sukmana. Sama seperti saat ini, kecintaan Surya terhadap otomotif membuatnya ingin belajar lebih banyak tentang mengoprek mobil, yang membuat Danu kadang kelimpungan jika sahabatnya ini tiba-tiba datang dengan segudang pertanyaan.
*
Ponsel Nadya berdering dan menunjukkan nama Dina di layarnya, masih belum pukul 9 di hari Sabtu, sebuah hal yang tidak biasa. “Ape, nyet?”
“Lo di mana?”
“Bengkel.” jawab Nadya masih sambil mengunyah sandwich.
“Ngapain?”
“Kayang sambil koprol.” suara di seberang tertawa membahana mendengar jawaban Nadya.
“Masih lama gak?”
“Katanya cuman sejam sih, ini baru 15 menit.”
“Lo gak balik rumah?”
“Engga, males sekalian nunggu aja. Lagian ini tadi dapet sarapan juga.”
“Lo di bengkel Mas Danu kan? Mas Danu yang ngasih?”
“Kagak, mekaniknya.” jawab Nadya singkat.
“Hah? pindah face time video sekarang, Nadya!” tiba-tiba panggilan suara tersebut beralih ke panggilan video.
“Apa sih lu? Tiba-tiba jadi video call?”
“Lo gembel gini dari tadi?”
Nadya merengut menyadari bahwa kurang lebih dia memang bisa dibilang gembel, rambut lepek akibat keringat setelah berlari, juga kaos yang ikut kusut. “Makasih loh udah diingetin.”
“Ganti kamera belakang lo dong, mana tadi mekanik yang ngasih lo sarapan? Baik bener. Cakeb gak?”
Nadya memutar kameranya, “Surprisingly cakeb sih emang, gondrong tapi enak diliat gitu, mana lucu lagi pake iket rambut gambar rubah gitu.”
Dila mencoba melihat siluet orang yang dimaksud dari layarnya, “Nad, kok kayanya gue familiar ya sama ni cowok?”
“Ketemu pas Bara service mobil kali.” Nadya menyebut nama kekasih Dina, yang kebetulan juga pelanggan bengkel Mas Danu. Nadya memutar kembali letak kamera.
“Mana ada? Gue gak pernah ikut juga sih kalo Bara ke bengkel, tapi tau ada yang cakep mestinya gue ikutan sih.”
“Jelalatan ya lo.”
“Nanti jalan dong, darling.”
“Males, gue mau rebahan.”
“Ya rebahan di spa deh. Bosen nih, Bara lagi driving sama bokapnya. Kayanya seharian deh. Paling baru bisa ketemu ntar malem.”
“Dih kalo bosen aja baru ke gue, emang jadi ban serep doang gue tuh.”
“Lu pacaran dong makanya, Nad. Ntar kan bisa double date.”
Nadya memutar matanya, “Udah ah. Lo mandi dulu sana. Ntar gue kabarin kalo udah beres.”
“Okay, darling. See you.” Dila melempar cium jauh, sementara Nadya segera mengakhiri sambungan telpon.
Pacaran? Emang hidup harus pacaran biar seseru itu?
*
Nadya masih membaca dari Kindle ketika Surya mengetuk pintu kaca ruang tunggu dengan pelan karena takut mengganggu. “Eh udah beres ya, Mas?”
“Udah, Mbak. Tadi sudah dicek juga kaki-kakinya, sama ban tadi sekalian spooring.” Surya menjelaskan, tapi matanya sambil melirik Kindle yang dipegang Nadya. “Suka baca apa, Mbak?”
“Oh–apa aja sih, Mas. Fiksi, non fiksi saya baca semua.” Nadya sedikit bingung ketika si mekanik ganteng ini tiba-tiba bertanya tentang kegemarannya membaca.
“Eh maaf, Mbak. Gak maksud apa-apa. Saya juga hobi baca soalnya.” Surya meminta maaf, takut dianggap tidak sopan. “Pembayarannya bisa di kasir ya, Mbak. Saya permisi.”
“Makasih ya, Mas.”
*
Nadya menyerahkan kartu debitnya kepada kasir, sambil bertanya pelan, “Mbak, Mas yang pake overall di depan itu siapa sih?”
Si kasir melongok dan melihat sahabat si bos sedang sibuk mengobrol dengan bosnya, “Oh Mas Surya.”
“Oh namanya Surya.” Nadya berkata sendiri, sambil menyimpan memori tersebut di otaknya, mungkin lain kali ia bisa menawarkan diri ke Ibunya untuk membawa mobil ke bengkel tanpa disuruh.
“Tapi Mas Surya bu–” belum sempat si kasir melanjutkan perkataannya, Nadya disibukkan dengan telepon dari sang Ibu.
“Oke, Bu. Ini baru beres. Iya, nanti aku beliin, ada lain gak? Makasih ya, mbak.” Nadya bergegas mengambil kartu debit serta kunci mobilnya.
Seusai berteriak terima kasih juga pada Mas Danu dan Surya dari kejauhan, Nadya melajukan mobilnya. Sempat berhenti sebentar di minimarket membeli titipan belanja sang Ibu. Kali ini sebuah pesan masuk ke ponselnya.
“Gue inget sekarang siapa cowok tadi!”
Dina melampirkan sebuah cover majalah Tatler edisi 2 bulan lalu, dengan wajah sang mekanik yang baru saja ia temui serta tulisan “The New Era, Surya Hadisukmana” mengenakan setelan jas hitam sambil menatap kamera tanpa senyum. Sungguh berbeda dengan mas mekanik yang ramah dan murah senyum tadi.
Nadya hampir menyemburkan air yang baru saja ia minum, karena pesan lain masuk ke ponselnya.
“Mbak Nadya, ini Surya. Tadi Kindle-nya ketinggalan di bengkel. Mau saya antar ke mana?”
Memang hidup boleh sebecanda ini?
