Mendadak Pacar

“Bocah gila.” Wildan mengumpat ketika membaca pesan dari Dion. Ia ingin menelpon tapi hari ini sudah cukup kelelahan dan tidak punya tenaga lagi untuk sekedar mengomeli adiknya. 

Brian mengetuk ruangan Wildan dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban, “Bareng dong, Dan. Lo bawa mobil kan?”

“Loh kirain lo udah pulang, Bri. Katanya habis makan di luar mau langsung balik.” Wildan menutup laptop dan memasukkannya ke ransel, mengambil kunci mobil di laci kemudian beranjak mendekati Brian.

“Tadinya gitu, terus ada yang kelupaan di kantor jadinya balik deh.”

“Ada yang nyari gara-gara nih.” Wildan menyodorkan ponselnya. Brian seketika terbahak membaca pesan dari si bungsu. 

“Kualat lu sama Dion, udah janji pake lupa. Eh bentar kayanya gue tau deh siapa tetangganya. Tapi kok gue siapa ya.”

“Anak kantor?” tebak Wildan. “Jangan-jangan gebetan lo ya, Bri?”

Brian berusaha mengingat tapi otaknya tidak bisa diajak bekerja sama, “Ntar deh kalo inget.”

Pintu lift terbuka dan Surya ada di dalamnya, “Lah kok jadi pada di kantor semua?”

“Bang, lu aja yang nyetir ya.” Wildan melempar kunci mobil dan Surya dengan sigap menangkapnya. “Mobil lo titipin Pak Samsul aja, tadinya gue juga mau naik taksi ternyata Brian minta bareng.”

Surya memasukkan kunci mobil Wildan ke sakunya, “Lo besok jadi outing?” 

“Pengennya sih bail out ya,” Wildan menyenderkan tubuhnya ke dinding lift, rasanya ingin segera merebahkan badan di kasurnya.

“Waaah lu ngomong bail out dilaporin Brian ke bokapnya loh.”

“Loh emang Oom Edo besok dateng, Mas?”

Brian mengendikkan bahu, “Tapi kayanya dateng buat buka acaranya sih.”

Selama ini walaupun sekantor Brian juga tidak mengetahui pasti jadwal ayahnya. Bertindak sebagai CEO Edward Tedjasukmana tentu punya kesibukan tersendiri, namun beliau pasti menyempatkan diri untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya. Brian si anak tunggal ini tidak pernah  melewatkan makan bersama kedua orang tuanya di akhir pekan entah itu brunch, lunch atau dinner. Sesibuk apapun agenda kencannya, Edward dan Anina adalah prioritasnya. Brian sendiri memang sudah digadang-gadang untuk menggantikan posisi ayahnya, itulah kenapa ia memaksa para sepupu untuk ikut kembali ke Indonesia. Minimal bersama mereka, hidup Brian bisa berkurang tingkat stres-nya.

“Lu mikirin alasan dari sekarang deh, besok sore kita ke apartemennya Dion. Kasian juga dia beres-beres gak ada yang bantuin.” ujar Brian.

Surya mengecek grup percakapan mereka di ponselnya, “Eh udah beres nih pindahannya.” Surya memperlihatkan foto yang dibagikan Dion, terlihat sudah rapi walaupun masih ada sisa kardus yang belum dibereskan.

“Eh dibantuin tetangganya beneran berarti, pantes foto lu dijual, Dan.” Brian terbahak lagi.

Surya memencet remote mobil, kemudian membuka pintunya, “Eh kok lo tau tetangganya Dion? Anak kantor?”

Brian membuka pintu bagian belakang mobil, diikuti Wildan yang duduk di samping Surya. “Kayanya emang ada anak kantor yang tinggal di komplek apartemen situ, gue gak yakin sih tapi ada.”

“Lho mas-mas ganteng belum pada pulang?” Pak Samsul, petugas keamanan, muncul sambil membawa senter. 

Surya keluar lagi dari mobil dan memberikan kunci mobilnya, “Saya titip semalem ya, Pak. Besok pagi saya ambil, mau sekalian ke bengkel. Sama ini buat Bapak sama teman-teman lain beli camilan.” Surya menyelipkan dua lembar uang seratus ribu ke tangan Pak Samsul.

“Waduh saya yang gak enak nih, Mas Surya. Dikasih terus.”

“Terima aja Pak Samsul, mumpung yang ngasih Surya.” teriak Brian dari arah mobil.

“Siap komandan!”

*

“Yon, jadi gak? udah di depan nih.” Sabrina mengirimkan pesan teks untuk Dion yang seketika dibalas oke.

Dion muncul dari balik apartemennya dengan menggunakan training suit warna abu-abu. Rambutnya sedikit basah bekas keramas yang tidak sempat dikeringkan. “Basah gitu gak apa? Ntar masuk angin.” sahut Sabrina.

“Aman, ntar juga kering sendiri. Yuk.”

Hari ini karena tuntutan pembayaran DP, Sabrina menemani Dion berbelanja di supermarket kawasan apartemen mereka. Bukan supermarket yang besar, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan para penghuni apartemen di kawasan tersebut. “Di sini sedia galon sama gas juga, Yon. Jadi elo tingga chat aja bisa dianter. Sekalian sama list belanja juga bis–“

Dion menarik tubuh Sabrina yang nyaris terserempet sepeda listrik yang nyelonong di area parkir. “Bahaya juga nih sepeda listrik, kagak kedengeran suaranya pula. Lo gak papa, Bri?” Jantungnya berdegub sedikit lebih cepat, antara kaget hampir terserempet sepeda dan menyadari tangan Dion yang sekarang sedang merangkul bahunya.

“Gak apa kok.” Sabrina menjauhkan badannya, tapi ada aroma musk yang tersisa menempel di bajunya. Buru-buru ia masuk ke dalam supermarket sambil menyambar kereta dorong sekenanya.

“Bareng aja keretanya, ntar dipisah di kasir.” Dion mengambil alih kendali kereta, membuat tangannya bersentuhan dengan Sabrina. Sekali lagi. Tidak sengaja. Ada desir tipis yang inginnya tidak ia hiraukan, tapi wangi peony mengusik indera penciumannya ketika mereka bersebelahan.

“Lo perlunya apa? Kalo di depan section buah sama sayur, peralatan kebersihan di pojok kanan, roti-roti di deket kasir.” Sabrina menjelaskan tanpa melihat ke arah Dion.

“Kita susurin aja ya, sekalian gue ngapalin letaknya.” Dion mensejajari langkah Sabrina.

Dion kemudian dengan santai memasukkan beberapa barang ke keranjang, Sabrina sendiri hanya ikut memasukkan minuman probiotik dan yogurt. Membiarkan Dion berjalan duluan dengan keretanya.

“Dion?” seorang perempuan berambut pendek menyapa. Sabrina yang berjalan di belakang mau tidak mau menabrak punggung Dion yang berhenti mendadak. 

Dion berpikir sejenak, siapa perempuan yang menyapanya. “Lulu. Temen SMA. Lupa ya?” lanjut perempuan itu.

Seketika Dion memutar memori masa SMA. Lulu dalam ingatannya berbalut baju putih-abu sambil menyodorkan setangkai bunga dan menyatakan perasaannya. Namun Dion dengan terpaksa menolak karena tidak dapat membalasnya. “Oh hai, Lu. Apa kabar?” Dion berlanjut basa-basi.

“Baik-baik. Lo apa kabar sih? habis kuliah di Amrik gak pernah berkabar di grup SMA deh. Balik Indo juga sepi-sepi aja. Eh pacar lo ya?” Lulu menoleh ke arah Sabrina yang berada di balik Dion.

Belum sempat Sabrina membantah, Dion dengan cepat menjawab, “Iya.”

“Mommy, playground, mommy.” Gadis kecil berkuncir dua tiba-tiba menarik Lulu untuk segera beranjak.

“Luna, shake hands dulu sama uncle – aunty-nya.” Luna memberi salam kepada Dion dan Sabrina dengan terpaksa, sambil tetap menarik baju ibunya.

“Catch up with you later yaa, Yon. Mari, mbak. Duluan ya.” Lulu kemudian pamit, beriringan dengan Luna yang tampak sumringah karena permintaannya dituruti.

“Besok-besok gue delivery aja deh.” tutup Dion mengakhiri edisi belanja hari ini.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started