Airport Fashion

Belum juga pukul 8 pagi, tapi Mila sudah ngedumel di samping Sabrina. “Gue udah dandan corporate look kaya gini dan mereka cuman pake celana cargo, kenapa cakepan mereka sih?”

Sabrina cekikan, sambil memperhatikan rekan sekantornya yang hari ini memakai setelan celana pantalon dan blazer keluaran Zara, serta sepatu Ferragamo. Bandara di tengah minggu tentu penuh dengan style mbak-mbak korporat seperti Mila, tapi di gate mereka menunggu masuk ke pesawat hampir semuanya menggunakan baju santai khas liburan karena destinasinya pulau dewata.

“Lo emang gak baca rundown yang dikasih Brian?” sahut Sabrina. Hari ini dia memilih aman memakai celana jeans dan kaos bergaris lengan panjang, dan new balace 530 yang bisa digunakan untuk lari tipis-tipis kalau harus pindah gate. “Kan ntar mampir hotel dulu.”

“Emang di-share di mana, nyet? Lo dijapri ya?”

Sabrina membuka ponselnya untuk mengecek ulang, “My bad, di-share-nya di grup tetangga ternyata.” Grup tetangga ini sebenarnya akal-akalan Dion saja, dengan dalih daripada chat berdua mending ramean. Dibuatlah grup tersebut dengan menambahkan Surya, Brian dan tentu saja Wildan.

“Iya deh yang sekarang circle-nya Sukmana.”

“Diem lo.”

“Bri, lo liat ya, gue udah bawa Tumi gini. Sama Dion yang cuman bawa tas laptop beli di tokped. Kok tetep kerenan doski ya?” Mila kembali ngedumel. Pandangan mata mereka sekarang mengarah pada Sukmana Bros yang juga menunggu di ruang tunggu. Ketika ditanya kok gak nunggu di lounge, mereka hanya menjawab lounge-nya jauh banget, capek. “Cetakannya orang kaya emang beda ya.”

Walaupun di grup tetangga hanya ditulis dresscode kaos hitam dan sepatu vans, tapi mereka memiliki style masing-masing yang tentu saja enak dilihat. Dion menambahkan jaket beige dengan aksen merah kotak-kotak keluaran Umbro x White Mountaineering serta celana denim hitam. Brian memilih topi hijau Kith dengan inisial K –bisa diartikan merknya atau gebetan terbarunya, yang senada dengan celana kargo-nya serta jaket hitam. Surya paling simpel hanya setelan jaket-celana training berwarna biru-hijau, tidak lupa topi Polo Ralph Lauren warna hitam yang menjurus ke buluk. Khusus Wildan, Sabrina sampai memekik dalam hati, dia memadukan cardigan hitam dengan celana ripped jeans keluaran Matin Kim, dan menambahkan scarf KAPITAL sebagai aksen di lehernya. He’s so cute! Sabrina jadi merasa underdressed dengan kaos uniqlo-nya.

“Itu baju ditotal sama tas plus jam tangan keknya tetep banyakan itu sih daripada gaji kita.” Mila berkata prihatin, Sabrina pun ikut setuju dalam hati.

Brian menghampiri dua rekan sedivisinya itu sambil menyodorkan dua gelas kopi susu Famima, “Loh Mil, gak gerah?” 

“Diem lo.” tapi tangannya tetap menerima gelas kopi dari Brian. “Thanks anyway.”

“Ya gue pikir udah di-share sama Sabrina, Mil. Sorry.”

“Apa yang lo harapkan dari orang yang lagi jatuh cinta, Brian?”

Kali ini Sabrina langsung menoyor kepala Mila, dan Brian ikut terkekeh, “Bener lagi, lo liat sodara gue jadi genit gitu.”

“Itu fashion ya, Brian.” Ganti Sabrina melotot ke Brian.

“Ampun deh dari gue yang gak ngerti fashion.”

Sabrina cemberut, sampai ada satu pesan masuk ke ponselnya. “Nanti sore jalan yuk.” Matanya mencari si pengirim pesan yang duduk di seberang ruang tunggu, senyumnya melebar, kemudian menganggukkan kepalanya. So this is love.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started