Mendadak Bintang Iklan

“Duh makasih banyak lho Mas Surya, Mas Wildan, Mas Brian, Mas Dion. Terutama Mas Wildan sama Mas Dion nih sampai bersedia turun gunung. Ehem..mas Wildan juga kalo ada berita royal wedding boleh loh kami dapet eksklusifnya. Nanti foto-fotonya yang tadi, saya mintakan ke pihak fotografer. Bagus banget kalo mau sekalian buat prewed. Mas Dion nih kalo saya lihat ada bakat terpendam loh, Mas. Gak pengen nyoba peruntungan jadi model nih, Mas?” Mbak Laras, junior editor Tatler, yang siang itu menemani Sukmana’s Bros pemotretan tampak sangat girang melihat hasilnya. Sempat merepet perkara royal wedding membuat Wildan mulai mesam-mesem. Tapi telinga Dion yang mendadak merah karena tiba-tiba dapat tawaran jadi model.

Hari ini secara spesial mereka diundang untuk melakukan wawancara serta pemotretan untuk perayaan ulang tahun Tatler ke-17, biasanya hanya Brian atau Surya yang kebagian artikel di dalamnya. Tapi karena ini merupakan perayaan khusus, Wildan serta Dion ikut berpartisipasi. Tidak tanggung-tanggung, pemotretannya untuk cover-nya pun dilakukan di Jepang. Itulah sebabnya Wildan dan Dion dengan sukarela ikut dengan alasan sekalian jalan-jalan gratis.

“Saya kenal nih sama editornya Cosmo, eh terus ini kayanya emang cocok deh. Mas Dion pake produk Galaxy juga kan. Galaxy lagi ada campaign deh, Mas. Cocok banget ini. Nanti coba saya speak-speak ke orang Galaxy yaa.” 

Dion yang disebut-sebut terus masih cengengesan sementara Brian mulai menahan tawa. “Mbak Laras, orangnya mulai grogi nih.”

“Aduh Mas Dion natural banget kok, tadi diarahin dikit aja udah langsung paham. Cepet nih kerjanya kalo sama Mas Dion.” Laras terus melanjutkan puji-pujiannya, bagaimana pun ia merasa sayang kalau bakat terpendam Dion hanya dipendam saja. “Gimana, Mas Dion? eh atau saya kontak ke manager-nya ya?”

“Gak ada manager lah, mbak. Urusan gini di-handle kita-kita sendiri.” kali ini Brian yang bersuara, terlebih karena memang dirinya yang paling sering mendapat tawaran pemotretan majalah walaupun untuk keperluan pekerjaan. Sukmana perlu wajah grup, dan Brian adalah wajah dari Sukmana. 

“Berarti saya boleh minta nomornya Mas Dion ya? Ini kartu nama saya, eh ya Mas Brian sudah punya juga sih.” Laras memberikan kartu namanya, yang diikuti Dion menyerahkan kartu nama miliknya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya terjadi tukar menukar kartu nama ini berujung ke tambahan jalan karir lain untuk Dion.

“Nanti saya berkabar ya, Mas Dion. Sekali lagi terima kasih banyak semuanya. Bagus banget ini pemotretan sama wawancaranya. Nanti malam saya gak ikut nemenin dinner gak papa ya, Mas-mas. Ada yang mesti dikerjain lainnya, tapi udah direservasi atas nama Sukmana.” Laras menyalami Dion, Surya, Wildan dan Brian bergantian, sembari berpamitan.

Brian mulai melanjutkan tawanya, “Begitu turun gunung langsung dapet tawaran jadi model cuy.”

“Sama tawaran iklan Galaxy.” Surya menambahkan.

“Yon, kalo butuh review kontrak bintang iklan bisa sama gue ya.” Wildan menimpali.

Dion yang tadinya cengengesan mendadak serius, “Emang gue ternyata se-photogenic itu ya? Mestinya yang jadi face of Sukmana Corp tuh gue deh bukan Brian.”

Brian melempar handuk yang terselampir di pinggiran kursi, pas mengenai kepala Dion, “Terserah!”

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started