“Suryaaaa, nebeng ke kampus dong.”
Belum sempat Surya mengiyakan, sesosok gadis berambut panjang-hitam-tebal, berkulit sawo matang, sudah duduk di kursi penumpang sebelah kirinya. Awalnya tampak agak kesulitan menaiki Ford truk pick up itu, tapi Nina–nama gadis itu, akhirnya duduk sambil bersiap mengenakan lipstik. Nina membuka sunvisor dan menemukan cermin di situ. Sementara Surya masih mengamati pemandangan pagi ini, Nina mengenakan mantel cokelat sepaha menutupi kemeja putih serta terusan kotak-kotak hijau tua di dalamnya, dan menambahkan aksesoris pita tipis di lehernya. Chic seperti biasa.
Nina mengatup-ngatupkan bibirnya, meratakan pulasan lipstik dan memandang Surya yang hanya terdiam. “Surya, buruan..telat nih.” Nina memberi gestur menepuk jam tangan Vivienne Westwood yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Menyadari dirinya terhipnotis, Surya segera menyalakan mobil dan melaju perlahan.
Karenina Saraswati, alias Nina, gadis blasteran Bali – Colombia ini adalah tetangga dari The Sukmana Brothers. Yang secara kebetulan Mr. Rick, ayah Nina merupakan rekan bisnis Oom Edward, ayah Brian. Dan demi kemudahan pengecekan para bujang di negeri Paman Sam, Mr. Rick mencarikan rumah di dekat rumahnya. Terlalu dekat malah. Nina sendiri satu fakultas dengan Wildan, jadi sebenarnya Surya juga tidak terlalu sering berinteraksi dengan Nina. Namun karena Nina adalah gadis supel dan periang, hampir setiap sudut kampus mengenalinya. Terutama karena saat ini Nina adalah kekasih dari Jason, ketua tim basket kampus. Sounds cliché, but the popular always click together.
“Kok gak dianter Jason, Na?” Surya membuka topik pembicaraan supaya tidak terlalu sepi.
“Kalo pagi biasanya aku dianter Papa sih, tapi tadi agak kesiangan bangun, terus Papa kayanya buru-buru. Liat kamu belum berangkat, ya udah nebeng aja deh. Gak papa kan, Surya?” kata Nina sambil menoleh ke arah Surya memberikan senyum termanis yang ia bisa.
“I-iya gak apa.” Surya bisa merasakan pipinya menghangat, kalau dilihat pasti terlihat perubahan semu merah.
*
“Makasiiiih Surya, kapan-kapan aku traktir makan siang bareng sama anak-anak ya.” Nina langsung mengambil tas Loro Piana-nya sambil mengangkat buku-buku yang ia bawa. “See you around.”
“See you..”
Nina keluar dari mobil Surya dan meninggalkan wangi Rose tipis di mobilnya, mata Surya masih mengikuti Nina yang tak lama bertemu dengan teman-temannya. Surya bersiap untuk keluar dari mobilnya, namun matanya tertumbuk menemukan lipstik Dior milik Nina yang terjatuh di kursi penumpang. Surya tersenyum tipis, sebelum akhirnya menaruh lipstik itu di dasboard mobil. “Nanti aku balikin deh..”
*
Sudah hampir 2 minggu Surya tidak melihat Nina, sepanjang yang ia tahu Nina selalu terlihat di mana-mana. Walaupun tidak satu gedung, tapi biasanya Surya selalu bisa menemukan keberadaannya. Bahkan di rumah pun, mereka bisa tiba-tiba bertemu di jalan. Tapi ini nihil, seakan Nina memang sedang menghilang begitu saja.
Pagi ini Surya sebenarnya ingin bertanya pada Wildan, sepupunya, yang walaupun terlihat pendiam sebenarnya paling terdepan dalam gosip kehidupan kampus. Namun Surya mengurungkan niatnya. Sampai ia menemukan Nina, berdiri di samping mobilnya, menangis.
Gadis itu duduk sambil memeluk kedua kakinya, tas dan barang-barangnya tergeletak begitu saja. Nina segera menghapus air matanya, namun Surya dengan perlahan ikut berjongkok di sebelahnya. “Are you okay?”
Nina tersenyum sambil mengangguk namun kemudian menggeleng cepat, kembali buliran air mata membasahi pipinya. Surya membuka pintu mobil, mencari tissue dan memberikan pada Nina. “Do you want to go inside?”
“Boleh ya, Surya? I just can’t find the perfect place to hide, but then I saw your truck.”
“It’s okay.”
Surya mempersilakan Nina masuk ke kursi penumpang, “Aku tunggu di luar ya.”
Nina mengangguk lemah dan membiarkan Surya yang kemudian sibuk menyalakan pemanas dan mencari selimut di jok belakang, sebelum menutup pintu mobil. Surya bisa melihat Nina agak menggigil, berapa lama gadis ini duduk di luar dalam cuaca sedingin ini?
Surya berjalan menjauh dari mobilnya, mencari vending machine terdekat karena setelah menangis pasti Nina akan sangat kehausan. Sembari mengabari Dion kalau harus membatalkan sesi main game malam ini. Satu jam, dua jam. Surya masih menunggu di luar mobil, udara mulai semakin dingin, Ia merapatkan jaket parka serta mengeratkan scarfnya. Sampai Nina kemudian menghampirinya, “Thanks ya, Surya.”
“Anytime. Better now?”
“Much better. Makasih ya, sampai dibawain air sama roti. Aku tadi makannya pelan-pelan kok supaya gak ngotorin mobil kamu.” Nina merasa bersalah.
Surya tersenyum, “Gak apa kok, Na. Yang penting kamu udah mendingan. Masih laper gak?”
“Kamu yang laper ya, Surya?” Nina menahan tawa mendengar suara perut Surya. “Maaf ya, aku padahal janji nraktir kamu makan siang, tapi it’s dinner now. Sekarang mau?”
Surya mengangguk dan mengajak Nina kembali masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan Nina tampak seperti baik-baik saja, dengan nada ceria dia bercerita bagaimana Ayahnya pernah mengajak Nina hiking di Lombok, sailing di Labuan Bajo, dan betapa dia kangen dengan Bali. Surya memperhatikan sambil sedikit-sedikit mencuri pandang.
Sampai di Diner pun Nina masih tampak ceria sambil memesan burger dan kentang goreng untuk Surya, sementara ia memesan segelas milk shake strawberi. “Kamu gak apa nih cuman ditraktir di sini?”
Surya mengangguk sambil mulai memakan kentangnya, “Aku sih gak yakin kamu mau ketemu orang kalo liat wajah kamu kaya gini?”
Nina panik dan mengeluarkan cermin kecil dari tasnya, “Surya ih kok gak ngasih tau sih?” Ia memandangi eyeliner yang agak luntur di sudut matanya sambil mengelapnya dengan tissue.
“Ya aku pikir konsepnya gitu, Na.”
“Mana ada ya, Surya?” Nina melempar tissue bekasnya ke arah Surya dan dengan sigap Surya menangkapnya. “Nice reflect.”
Nina menyeruput milkshake-nya dengan cepat, ketara ia sendiri cukup lapar tapi tidak terlalu ingin menambah kalori dengan memakan burger serta kentang. Putus boleh, gendut jangan, begitu prinsipnya. Ia menghela nafas ketika milkshake-nya berhasil ditandaskan.
Surya mengangguk sambil menahan senyum, “Nih separoan burger sama aku aja.”
“Nanti kamu kurang loh, Surya.”
“Ya kan bisa pesen lagi, kamu yang traktir ini.”
Nina tersenyum, kemana saja dia selama ini kenapa tidak pernah tampak olehnya kalau Surya memiliki senyum yang lucu ketika menampakkan gigi kelincinya. Mata Surya yang tampak berkilat-kilat ketika tersenyum. Serta alis tebal yang membingkai mata itu. It’s perfect.
“Oh iyaa, lipstik kamu ketinggalan di mobil aku tuh.”
“Aaah pantes aku cari gak ketemu.” Nina tersadar dari lamunannya.
“Kamunya ngilang sih.” ujar Surya pelan.
“Kamu nyariin?”
“Ya kan aku mau balikin lipstik kamu.”
“Kan bisa dititip sama orang rumah, Surya.”
“Ya gak enak lah nanti dipikir macem-macem.”
“Dipikir kamu suka pake lipstik gitu ya?” Nina terkikik.
“Ya gak gitu juga sih, Na.” jawab Surya. “Are you okay now?”
Nina menghela nafasnya, “I think I’ll get better. Sorry ya jadi ngerepotin kamu deh dari sore-malem gini.”
“Enggalah aku santai kok.”
“Beneran nih gak ada yang nyariin?” goda Nina, dengan penampilan menarik gini mustahil sebenarnya Surya tidak memiliki kekasih.
“Paling Dion, Wildan, Brian. Dah gede-gede ini.”
Nina mengedarkan pandangan dan menemukan sebuah gitar akustik di panggung kecil. “Main dong Surya, aku pengen denger. Tahun kemaren kamu ngisi festival juga kan sama anak-anak? Main dong.”
“Malu lah, Na.”
“Iih orang kita doang isinya.”
Surya memandang ke sekeliling dan memang hanya ia, Nina dan penjaga Diner yang ada di situ. “Aku tanya dulu deh.”
Surya beranjak dan bertanya pada penjaga Diner, ternyata dipersilakan.
“Nyanyi apa nih? Request deh.”
“Officially Missing You dong, Surya.”
“Oh masih kangen?”
Kali ini Nina melempar tissue lain dan mendarat di wajah Surya, “Rasain! Ngegodain sih.”
Surya terbahak, kemudian mencoba menyetem gitar dan memetiknya. Tidak pernah terbayangkan bisa membuat mini konser dengan penonton yang sangat istimewa di hadapannya. Mungkin memang Nina masih belum lupa, tapi Surya yakin kali ini ada kesempatan untuknya.
*
“Kata gue tembak gak sih?” Brian memberi saran.
“Lampu ijo banget sih itu, Mas.” Wildan ikut menimpali.
“Katanya Mark anak rugby juga deketin sih, Mas.” Kali ini Dion ikut nimbrung.
“Kok lo tau? Kan beda kampus.” Surya sewot.
“Intel, Mas, Intel.”
Brian menguap sambil berkata, “Lagian ngapain sih pendekatan sampe 2 bulan tuh? Puasa aja tuh cuman sebulan loh.”
“Emang elo, Bri. Pdkt 3 hari – pacaran seminggu – terus putus.” ejek Dion.
Seketika bantal terbang mengenai muka Dion. Tidak terima dengan perbuatan Brian, Dion langsung menyerang balik.
“Dipikirin baik-baik ya, Mas. Kemaren udah ketinggalan lipstik, ini ketinggalan cermin, mana tau habis ini hatinya juga yang ditinggalin kan.” ujar Wildan tanpa mempedulikan pertarungan di belakangnya.
“Dangdut lo,” kali ini Wildan juga menjadi sasaran perang bantal antara Brian dan Dion.
“Besok gue tanya deh kalo gitu.” ujar Surya mantap.
*
Surya memutar-mutar kunci mobil sambil bersandar di kap mobilnya. Sesekali mengecek jam tangan Cartier di tangan kirinya. Mematut-matutkan diri di spion, lalu merapikan kemeja hitam denim yang dipadukan dengan celana denim serupa. Rambutnya sudah agak lebih panjang, tadinya ingin diikat, tapi tampaknya lebih rapi di-styling seperlunya. Sudah lama Surya tidak merasakan sensasi seperti ini, terakhir jantungnya berdebar cepat adalah ketika festival band tahun lalu, di mana ia, Brian, Wildan dan Dion ikut tampil mewakili perwakilan mahasiswa Indonesia. Tapi kali ini debarannya berbeda, Surya tersenyum melihat Nina berjalan ke arahnya, mengenakan sundress putih dan rambut panjangnya diikat separuh.
Surya membukakan pintu mobil, serta membantu Nina naik, lalu menutup pintunya. Lalu segera ikut masuk ke dalam mobil.
“Cakeb banget.” goda Nina. “Kita cuman mau ke perpus kan?”
“Makasih. Rencananya gitu sih.” ujar Surya sambil menghidupkan mesin dan mulai melajukan mobilnya.
“Hmm..”
“Suka gak?”
Nina menoleh, sambil menatap Surya bingung. Sebenarnya percakapan-percakapan sepeti ini sering terjadi di masa dua bulan mereka bersama, tapi yang sering terjadi Surya selalu mengalihkan pembicaraan. Nina tidak ingin terjebak lagi.
“Suka apanya nih?”
Surya terdiam, mendehem sebentar, “Hmm..akunya?”
“Akunya nih maksudnya aku suka kamu gitu?” kali ini Nina memberanikan diri bertanya lebih lanjut.
Surya mengacak rambutnya tanpa sengaja, sambil tersenyum malu-malu memperlihatkan gigi kelincinya. “Iya.”
“Oooh..” Nina mulai cekikikan. Bagaimana mungkin pria yang tinggi besar ini bisa menjadi super pemalu ketika ditodong pertanyaan begitu. Gemas, pikir Nina. “Suka kok.”
Surya hampir mengerem mendadak, dan tanpa sadar tangan kirinya berada di hadapan Nina. “Sori-sori, Na. Kaget ya?”
“Yang lebih kaget kayanya kamu deh, Surya.”
Surya menepikan mobilnya, khawatir kalau diteruskan malah berbahaya. Ia menoleh ke arah Nina. “Kalo pegang tangannya boleh?”
Nina mengulurkan tangan kirinya dan menggenggam tangan kanan Surya, kemudian meletakkannya di pahanya. “Oh pake ijin segala ya.”
“Kan masih first step, Na.”
“Emang next step-nya apa?”
Surya mendekatkan tubuhnya ke arah Nina, berbisik pelan, “We’ll get there. Together.”