Moving Day

“Jadi siapa nih yang bantuin gue pindahan hari ini?” Dion mengerjapkan mata sambil menunggu respon para abangnya.

“Loh bukannya besok pindahannya?” Surya berkata bingung sambil mengecek ponselnya. “Eeeh hari ini ya, Yon?”

Dion mengerucutkan bibir, dan mengalihkan pandangan kepada dua kakaknya yang lain. Wildan masih pada sambungan telepon sementara Brian mengecek tablet-nya. 

“Yaaaah..gue lupaaaa, Yon.” Brian menepuk dahinya. “Serius udah gue tulis di jadwal, tapi gue yang lupa.”

“Lupa apaan?” Wildan lanjut bertanya setelah mengakhiri sambungan telepon.

“Pindahannya Dion.” Surya berkata lirih takut adiknya semakin kesal.

Wildan mengalungkan tangannya ke leher Dion seraya berkata, “Besok ya gue bantuin seharian deh, hari ini mesti ngurusin berkas di notaris sampe sore.”

Dion yang kadung kesal menghempaskan tangan Wildan, “Besok kan lu ada outing, Mas Brian paling ada janjian sama gebetannya yang baru, Mas Surya ke bengkel. Makanya dibikin hari ini. Pada jahat sama aku.” Dion menyudahi makan siangnya, dan beranjak dari kantin, mendahului kakak-kakaknya.

*

“Kakak yang di depan pake jaket hitam, boleh minta tolong gak? Ada dus warna cokelat deket lift, boleh di bawa ke sini?” Dion berteriak dari dalam apartemennya, ketika melihat seseorang muncul dari balik lift. Menurut perkiraannya, pekerjaan pindahan ini masih bisa dia atasi sendiri bersama petugas jasa pindahan yang dia sewa. Nyatanya beberapa dus serta kontainer belum berhasil masuk ke dalam apartemennya. 

Dion menelengkan kepala dan segera menghampiri sosok yang membawa kardus cokelat yang dia minta. “Hello, neighbour!”

“Dion?”

Matanya berbinar mengetahui siapa yang hadir di hadapannya, senyum merekah di bibirnya, “Hai kakak yang naksir Mas Wildan!”

Sabrina masih berusaha memproses apa yang saat ini terjadi, Dion Putrakusuma sedang tersenyum padanya, dan menjadi tetangganya. Bukan hal yang mudah untuk dicerna. “Kak Sabrina kan? Boleh bantuin gak? pada bail out semua nih, nanti imbalannya gede deh, Kak.”

Yang terjadi setelahnya Sabrina ikut membantu Dion menata barang-barang di apartemennya, sambil sesekali Dion bercerita tentang hobi memancing dan menjelaskan kenapa dia memiliki satu set drum yang akan diletakkan di kamar khusus kedap suara. “Selesaaaai!” Dion dengan bangga bertepuk tangan dan mengacungkan jempol ke arah Sabrina. Sungguh situasi yang sama sekali tidak pernah terbayangkan bisa berinteraksi dengan salah satu Sukmana sekali lagi. Dion menyodorkan sebuah botol air mineral dingin untuk Sabrina, “Nih kak, minum dulu. Makasih banyak ya, kak.”

“Kak Sabrina ini cuman ngobrol banyak kalo topiknya Mas Wildan ya? Diem banget.”

Sabrina terbatuk, tidak menyangka topik tentang Wildan akan dibahas. Dion segera mengulurkan tissue, tapi sambil tertawa kecil. “Sorry..sorry, Kak. Eh siniin handphone-nya deh, Kak.”

Dion mengambil ponsel Sabrina, memasukkan nomor dan menyambungkannya pada aplikasi pesan, “Nih, kak. Imbalannya, nanti kalo Kak Sabrina ngasih aku nomor tukang galon langganan, aku kasih lagi.”

Sabrina membuka pesan yang dikirimkan Dion, kemudian terbatuk lagi. Kali ini dikarenakan foto masa kecil Wildan. “Is it okay?” tanya Sabrina perlahan.

“Aman, Kak. Itu lisensinya aku yang pegang.” Dion terbahak.

“Well..thank you then.” 

“My pleasure.”

Sabrina kali ini mau tidak mau jadi merasa tertarik dengan si bungsu yang tampaknya memang ingin diajak ngobrol ini, “Jadi kenapa pindah dari Sukmana suites?”

“Hmm…pengen aja sih, Kak. Pas di Amerika juga bareng mereka terus, kayanya balik Indo emang mesti mandiri sih. It’s never been easy to be Sukmana kan, kak.”

Sabrina mengangguk, nama besar Sukmana memang cukup diperhitungkan dalam kancah perbisnisan. Walaupun ayah Dion bukan termasuk yang membesarkan Sukmana Corp, tapi tetap saja membawa nama tersebut tentu menjadi beban tersendiri bagi Dion, “Tapi kok akhirnya mau kerja di sini, Yon?” Sabrina menarik jaketnya, Dion dengan cekatan mengatur suhu di ruang tengah melihat Sabrina agak kedinginan.

“Diajakin Brian Tedjasukmana lah.” jawab Dion sambil sibuk beralih ke dapur mencari sesuatu yang hangat untuk Sabrina. 

“Jadi ide Brian semua nih ngajakin kalian balik ke Indo buat kerja di Sukmana Corp?”

Dion selesai membuat teh hangat, mendekatkan mug berwarna biru muda ke arah Sabrina, “Adanya ini ya, Bri. Iya sih, Mas Brian yang ngajakin semuanya balik. Tapi yang paling pertama setuju sih Mas Surya. Aku sama mas Wildan ngikut aja, karena belum dapet kerjaan. Eh mas Wildan udah ada tawaran sih benernya, cuman kangen rumah katanya.”

“Woaaaaahh..emang semua Sukmana gini ya?”

“Gini gimana? This is manner yaa, kan kamu tamunya.”

Sabrina meniup-niup mug-nya sambil tersenyum kecil. “Tapi kalian tuh emang naikin standar tau.”

“Emang naik motor ada standar-nya? Ini tuh basic banget loh, Kak. Habis ini aja benernya mau ajakin makan malem karena udah bantuin pindahan.”

“Ini juga diajarin Brian?” Sabrina terkekeh.

“Bukan, emang kami diajarin sama Nenek dari kecil. Urusan basic manner semua Nenek yang ajarin.” Dion menjawab serius. Ingatannya kembali ke masa kecil di mana setiap sebulan sekali pasti ada kunjungan ke rumah Nenek Ali Sukmana. Brian selalu menjadi yang paling disanjung nenek, tapi Dion yang paling disayang. Dion kecil masih boleh bail out sambil curi-curi makan cookies di dapur. Sampai sekarang pun agenda bulanan itu selalu ada, walaupun ketika mereka semua di Amerika agendanya berubah menjadi tahunan. Generasi yang sekarang diisi oleh keponakan-keponakan generasi Alpha yang energinya luar biasa, Dion saja sampai kewalahan kalau bermain dengan Kenanga, anak kakak perempuannya.

Sabrina mengangguk-angguk penuh kekaguman, sulit memang membayangkan Dion yang selalu tampak slengekan di kantor, ternyata manis sekali kelakuannya. 

“Eh gimana tawaran makan malamnya?”

“Pass deh, Yon. Lagi diet.”

“Hmm..takut naksir ya kalo berduaan?”

Tanpa sadar pipi Sabrina memerah, “Ngawur. Aku balik ya.”

Dion ganti cekikikan, menikmati perubahan raut muka perempuan di hadapannya yang tiba-tiba panik. Padahal itu juga dia lakukan supaya telinganya yang memerah tidak ketahuan. Sabrina berjalan cepat ke arah pintu, “Bri, besok anterin ke supermarket dong.”

“Kok jadi banyak sih permintaannya.” 

“Aku kirimin DP deh, coba dicek dulu.”

Sabrina mengecek ponselnya, kemudian senyum mengembang di bibirnya, “Yon, kalo ini DP-nya aku mesti nemenin kamu belanja seminggu?”

Kali ini foto kecil Wildan kala didandani menjadi putri oleh kakak-kakak perempuan mereka yang Dion kirimkan, dan masih banyak foto-foto lain yang memang sengaja Dion simpan karena suatu saat akan berguna. “Ya minimal emang seminggu sih. See you tomorrow, Kak.”

*

Wildan memijat dahinya sambil memejamkan mata. Pekerjaannya hari ini cukup padat, sampai dia melupakan janji untuk membantu Dion pindahahan. Pukul 22.00 dan Wildan baru benar-benar menyelesaikan pekerjaannya. Padahal esok hari dia harus berangkat Outing ke Bogor bersama rekan satu divisinya. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Dion.

“Mas, foto lu gue jual ke tetangga. Cantik orangnya :p”

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started