The Sukmana Brothers begitu mereka biasa dipanggil, memasuki wilayah kantin Sukmana Corp yang terletak di lantai 7 Sukmana Tower. Surya Hadisukmana berjalan paling depan, diikuti sepupu-sepupunya, Brian Tedjasukmana, Wildan Ariosukmana dan si bungsu, Dion Putrasukmana. Seluruh karyawati tampak saling berbisik kentara sekali tertarik. Sukmana Bersaudara padahal cukup sering makan siang di kantin, menyandang nama Sukmana tidak lantas menjadikan mereka istimewa, tapi jelas penampilannya berbeda. Surya dengan kemeja dan celana beige yang tampaknya keluaran Polo Ralph Lauren, Brian yang hari ini menggunakan setelan Thome Browne abu-abu, Wildan kemeja dan celana hitam keluaran Prada, sementara Dion yang paling santai memakai kaos dibalut jaket ber-capuchon serta sepatu converse tampak seperti anak magang yang ikut kakak-kakaknya bekerja. Alasannya anak IT ketemunya cuman kabel di ruang server, gak perlu resmi-resmi banget.
“Gak kedip lu ngeliatin Wildan, bentar lagi masuk deh lalat ke mulut.” Mila menyenggol bahu Sabrina yang memang tidak berkedip sejak The Sukma Bros masuk ke kantin. Sabrina mengerucutkan bibirnya, seraya berkata, “Ganteng tauk, Mil.”
“Gue gak buta yaa, Bri. Tapi ganteng Surya sama Brian gak sih?”
“Gabung sama groupies-nya sana.” Sabrina menunjuk ke sisi barat kantin dengan dagunya. Beberapa perempuan berkumpul terlihat bersemangat bahkan mencuri-curi kesempatan untuk mengambil foto. Ajang makan siang di Sukmana Tower memang bisa berubah menjadi acara ketemu penggemar.
Sabrina melanjutkan makan siangnya, yang kebetulan hari ini menu kesukaannya Dori telur asin, tapi matanya tak lepas dari Wildan. Wildan dengan matanya yang ikut menyipit ketika tertawa, tentu tetap lebih menarik daripada Dori di hadapannya. Pertemuan pertamanya dengan Wildan menjadi satu hal yang tak terlupakan, Sabrina yang saat itu menunggu taksi online di depan Sukmana Tower tiba-tiba dijambret dan dengan adegan heroik layaknya drama, Wildan berhasil menggagalkan upaya tersebut. Tiga tahun berlalu semenjak kejadian itu tapi nyatanya Sabrina hanya jatuh hati sendiri. Wildan yang kala itu masih anak intern sekarang sudah menjadi salah satu anggota The Legal Elite Team, dengan popularitas yang juga semakin menanjak. Tanpa bermaksud sebagai penguntit, Sabrina tentu tahu siapa perempuan-perempuan yang berada di sekitar Wildan. Kabar tentang Sukmana bros mudah sekali didapat dari grup kantor khusus penggemar. Walaupun belum pernah ada yang terverifikasi menjadi pacar, tapi tidak pernah ada nama Sabrina.
“Bri, buruan yuk. Gue meeting sama Brian habis ini, belom touch up.” Mila mengangkat nampan, bersiap beranjak.
“Gila. Gue pikir nyiapin materi, taunya nyiapin muka.”
“Ya namanya juga usaha.”
“Tapi gue pengen beli kopi di bawah. Lo duluan aja deh.”
“Laaah gue juga mau ngopi, ya udah kita turun dulu lah.”
Berada di dalam lift, Mila mulai membubuhkan lipstick-nya di bibirnya dengan kaca mungil yang selalu dia bawa. Sementara Sabrina mengecek grup penggemar The Sukmana Bros, “Cakep ya Wildan, Mil.”
“Lo ngomong nama Wildan sekali lagi, gue umumin pake mic di reception bawah ya.”
“Galak lu.”
Tiba-tiba lampu lift berhenti di lantai 5, “Loh, Bri, kok berhenti?”
“Sorry to interupt you, Ladies. Tapi boleh permisi gak, aku berhenti di lantai ini.” Sebuah suara mengagetkan Mila dan Sabrina, berasal dari balik mas-mas kurir yang tak dianggap, Dion muncul dengan senyum tengilnya. “Nanti aku salamin ke Mas Wildan, Kak..” Dion melirik ke arah name tag yang tergantung di leher Sabrina. “Kak Sabrina.”
*
Sabrina terpaku mendapati kardus-kardus berbagai ukuran tergeletak di depan apartemennya. Selain itu box-box container juga memenuhi koridor, sempat Sabrina bertanya pada petugas keamanan siapa yang akan menempati apartemen di sebelahnya mengingat banyaknya barang yang sejak pagi sudah tergeletak di dekat pintu apartemennya. Bahkan sampai dia sudah selesai lari berkeliling taman kompleks, kotak-kotak itu bahkan belum berkurang separuhnya.
“Sekeluarga banget yang pindahan, Pak?”
“Kayanya engga, neng. Sendirian aja.”
Sabrina berusaha melewati kotak-kotak tersebut untuk menuju pintu apartemennya, sebelum sebuah suara tiba-tiba memanggilnya, “Kakak yang di depan pake jaket hitam, boleh minta tolong gak? Ada dus warna cokelat deket lift, boleh di bawa ke sini?”
Dus cokelat yang dimaksud berada di dekat kaki Sabrina, dengan sedikit dongkol Sabrina membawa dus itu untuk tetangga barunya. Belum apa-apa udah ngerepotin nih, batinnya. Namun belum sempat Sabrina mendekat, si tetangga sudah berada di hadapannya, “Hello, neighbour!”
“Dion?”
“Hai kakak yang naksir Mas Wildan!”
*inspired by Band Bapak-Bapak Kesayangan Day6